journey

Mereka telah memiliki keceriaanmu di hari-hari yang terang menyilaukan. Seolah segalanya mudah, mudah sekali. Hingga kamu tak percaya dan lupa bertanya, kamu terus mengikuti.

Namun aku memiliki kerapuhanmu.

Yang datang dan pergi, seolah kerapuhan tak kuasa meninggalkanmu. Kerapuhan bahagia berdiam di jiwamu. Jika mereka menemukanmu menjadi sosok lain yang tegar. Namun saat musim hujan itu kamu kembali seperti bayi. Menggigil di pangkuanku. Sampai-sampai aku menawar, sekali-sekali bagaimana jika aku bertukar posisi dengan mereka?

Entah dimana paduannya? Namun pada saat yang sama aku mengakui jika peran-peran ini adalah yang terbaik. Tak ada yang tertukar. Keinginan yang datang sekilas itu, mungkin akan terjadi sekilas juga. Karena kekuatan dan keyakinan menjadi penentu sebenarnya.

Lalu tentang kesadaran-kesadaran yang menghampirimu diwaktu subuh. Kamu menunggu kesadaran itu, hingga takut tertidur. Kamu menyesal, jika melewatkan. Kamu mencarinya sepanjang hari, dari saku baju, juga telapak kaki. Apakah tertinggal disana? Kamu sungkan berterus terang, namun aku seperti mendengarnya. Dari ucapan-ucapan yang meluncur secepat kilat. Dari gumaman, juga igauan.
Bagaimana mungkin kamu mengagumi kecerobohan? Bagaimana bisa kamu menari dengan kebodohan?
Tapi kita tak boleh sama-sama bodoh. Apalagi ceroboh!

Hingga kita sama-sama tertawa, pada waktu-waktu yang telah menghinatimu. Hingga aku menahan tawa mendengarmu bercerita, mereka tidak tahu kamu telah mencarinya kemana-mana. Mereka hilang dalam gelap yang kamu ciptakan dari rona wajahmu. Tak ada potensi! Teriakan mereka memantul menjadi bisikanmu. Bisakah sekarang kamu membedakan, mereka yang baik, dan mereka yang sangat baik. Baik yang kondisional, baik yang tidak kondisional?

Hingga kita sama-sama tertawa, saat mendapatimu lelah berjalan. Kamu bergumam? Rumah...saya rindu rumah. My wonderland...are you?

Tahun Baru

Tahun baru telah berjalan hampir tiga pekan. Waktu berjalan cepat. Hingga saat kita terlalu lurus melihat kedepan, hari-hari seolah berjalan seperti biasa. Tak ada yang spesial, tak ada kejutan. Atau rutinitas berjalan dan terus berjalan lengkap dengan kita telah berada di dalamnya. Kita mengikutinya. Jika kehidupan menawarkan aneka rupa wajah, kita hanya mengikutinya. Kadang bertahan, kadang melepas. Kadang melawan, terkadang berkompromi.

Bukankah itu seninya hidup?

Ketika beberapa hal tak berjalan sesuai pikiran, namun hal lain datang menghampiri melebihi harapan. Semesta mengatur keindahan dalam harmoni, bagimu yang meresapi pesannya.
Mengapa kita tak kunjung bebas? Mungkin kebebasan membuatmu kehilangan kendali. Mungkin keterbatasan justru membuatmu selalu terjaga untuk berhati-hati.
Lalu seseorang bertanya, kok aku makin sesak nafas ya? Mungkin Tuhan ingin kamu belajar memanfaatkan udara.

Ah...Tahun baru ini. Mungkin kembang api itu terlalu biasa, selalu ada. Namun awal tahun baru ini tak biasa. Ada warna!

Percakapan di Udara

“Apa yang kamu rindukan hari ini?”

“Aku ingin menyusuri desa dengan naik sepeda. Seperti adegan film Eat, Pray, Love. Desa seperti di Bali itu loh, yang masih banyak sungai dan pohon. Kita menikmati udara segar pelan-pelan, seperti hanya kita yang bernafas hari itu. Sungguh tak ada yang mengalahkan kedamaian sebuah desa. Akhir-akhir ini aku keluar masuk sebuah desa untuk keperluan riset, itu seperti wisata.”

“Bukankah kamu suka pantai? Kok tidak ke pantai saja, kapan terakhir kamu ke pantai?”

“Sudah lama aku tidak ke pantai, pantai sekarang panas. Membayangkan saja bisa bikin gerah. Aku masih suka pantai, bagiku saat di pantai kita bisa memandag laut yang luas, seperti tak berbatas dan bebas. Aku menyukainya, namun saat ini hawa dingin dan udara segar membuat perasaanku hangat, bagiku itu kesenangan yang lain, kebahagian yang lain. Aku tergila-gila sesuatu yang berwarna hijau, pohon-pohon itu seperti penyelamat. Mereka mendamaikan! Mereka bisa meredakan amarah.”

"Oya...? Segitunya ya..."

“Suatu kali aku berpikir bagaimana jika ruanganmu yang kecil itu, diletakkan sebuah tanaman. Pasti lebih hidup! lebih berwarna. Hmmm...tapi sayang, kamu bukan perawat yang baik, tanaman mawarku dulu mati meranggas gara-gara kamu sering lupa menyiramnya. Kamu menyiksanya!”

"Hmm...jadi malu,kamu ingat itu ya?"

“Tapi begini, aku berpendapat bagaimana jika kamu menganggapnya sebagai teman. Jadi saat pagi, saat kamu minum kopi, anggap saja kalian ngopi bersama. Lalu saat itu kamu pun memberinya minum, kamu menyiraminya. Sederhanakan? Oya...agar dia tumbuh dengan baik, letakkanlah di dekat jendela, sinar matahari akan membuatnya sehat. Tiap kamu minum kopi dan memandang jendela, otomatis kamu melihat tanaman itu, kamu menyapanya dan hatimu berbisik “Hai mari minum bersama.” Hmmmm...kalau kamu, apa yang kamu rindukan sekarang?”

”Aku...Aku cuma pengen ada kamu disini, lalu aku tidak kesepian lagi.”

“Haa...Cuma itu, ayo dong...kamu bisa lebih baik lagi.”

“Mungkin aku akan malas-malasan sambil baca buku di sampingmu, mataku akan selalu tertuju pada buku itu. Seolah kamu tak ada. Seperti kamu ada di tempat yang jauh. Tapi nyatanya kamu dekat sekali. Begitulah, hatiku penuh dan seperti kamu sudah masuk di dalam sini. Lalu aku melihatmu cemberut, karena merasa aku cuekin. Tapi kehadiranmu sudah cukup bagiku, bahkan saat kita tak melakukan apa-apa. Saat kita cuma diam.”

“Waktu itu apa buku yang kamu baca?”

“Hmm, mungkin Thousand Cranes-nya Yasunari Kawabata. Aku khidmat membaca, sementara di luar hujan gerimis. Sempurna sekali. Aku pernah bilang kan, buku Kawabata enaknya dibaca waktu hujan. Dia penulis berbakat, yang pandai menggambarkan perasaan-perasaan.”

“Aku sih, suka hujan karena udara jadi tak panas. Mula-mula jika aku sedikit berusaha soal penghayatan, aku menyukai bau tanah saat hujan pertama. Baunya alami, mengingatkanku pada kampung halaman di masa lalu. Disana banyak rumah berlantai tanah, halaman penuh rumput. Tak seperti sekarang, kebanyakan tertutup paving block. Kedua udara dingin membuat aku tak perlu berkali-kali mandi. Aku akan memakai sweater juga celana panjang berbahan kaos, celana favoritku. Waktu minum teh jadi nikmat. Lalu aku akan bersemangat di dapur, mungkin aku akan masak spaghetti dengan parutan keju ekstra. Tapi ngomong-ngomong kamu tidak boleh minta loh.”

“Ehmm mengapa? kenapa?”

“Anggap saja itu hukuman. Karena cuma sphagetty yang bisa mengalihkanmu dari Kawabata. Hahahahaha... Kenapa sih, suka buku-buku karya orang yang sudah Mati?”

“Kenapa ya? Ah sulit menjawabnya, aku perlu mandi dan memakai baju berkerah, Mungkin juga perlu makan malam dulu. Nah baru, setelah itu aku bisa menjawabnya dengan baik.”

“Hahahhaha...lebay, jawab saja ngga bisa. Bilang saja pertanyaanku terlalu jenius."

“Ah kamu yang lebay sekarang, namun sungguh aku perlu mandi.”*

Selasar #3

Tentang teriakan tempo hari dan hari ini
Kamu mendengarnya
Namun dia datang dengan ceria
Membuatmu lupa telah memegang bara

Lalu senja-senja yang kian samar
tenggelam dalam lautan gedung itu
Menenggelamkanmu dalam keriuhan yang fana
Tak ada lagi cakrawala
Tak ada lagi jingga
Jingga yang kamu sukai
karena disanalah lahir sebuah puisi
Cakrawala yang bercerita tentang batas-batas
waktu kepulangan
juga penantian

Semua bergerak cepat sekali
Saling mendahului juga memunggungi
Hingga kamu belajar menjadi asing
"Itu aku sekarang", katamu malu-malu
Benarkah?

Namun teriakan itu terdengar lagi
Teriakan dari masa lalu
Lebih jelas, lebih jelas
Kamu berfikir dejavu
Dialah kekuatan,
yang berjalan menggenggammu
Kesederhanaan yang hangat memelukmu
Kesetiaan dari air mata,
yang kini Menetes
di jari-jarimu yang melepuh