Puisimu

saputangan kerinduan
Oleh: S.Fahri salam
aku hanya ingin pulang
kembali ke rahimmu
berdiam tak berbusana
ketika tubuh hanya debu telanjang
tersuruk ke lembah tak bernama
desis ular tak bersuara
Adam yang merindukan tulung rusuknya

ini bukan dongengan, cintaku
bukan kerjap cahaya di tugur lampu kota

sendirian
mencari pasangan kekal saat
kelelawar hitam jatuh di telapak tanganku
dan seperti rekah bunga matahari
di pagi yang menyimpan perih
sayapnya menggelapar serupa saputangan
yang pucat
dimana namamu kuterakan di atasnya

dapatkah janji itu setia, cintaku
dapatkah musim meneteskan hujan di waktu yang sama, sayangku
ketika tanpa sengaja kau mencium aroma lemak dalam sekerat sapi
terpanggang di atas tungku api
tetes demi tetes serupa cinta yang berahi

angin membawa kerinduan ini
ke asal ia dilahirkan
rahimmu mengabadikan ketenangan yang tak terusik
sebentar mendekap tumpuk gelisahku
untuk kau buat menjadi payung asmara yang teduh
bertahun-tahun
memunggungi matahari, pijar lampu, dan cuaca yang kadang
tak terduga

ketika aku jauh di kota sejuta cahaya
petang yang tampak menakutkan
geletar petir memecah kebekuan
di sarang-sarang gelap kelelawar yang tak beralamat
kau tahu, cintaku
aku hanya ingin berada dalam rahimmu.

jakarta, 14 maret 2006
02:50

Menghitung Kehilangan

Akhir-akhir ini aku sperti berhitung dengan kehilangan. Kehilangan yang terkadang susah untuk dijelaskan namun aku bisa merasakannya. Satu, satu pergi, Mungkin aku ini sensitif, tapi aku percaya intuisi dan percaya apa yang kurasakan. Satu, dua hal mulai terbukti namun aku terus berfikir positif dan berdoa dengan doa terbaik. Aku mendengarnya sendiri. Aku merasakan sendiri perubahannya.

Seandainya aku ini tidak ada, dan tiba-tiba lenyap, aku ingin menghitung berapa banyak yang merasa kehilangan? Berapa banyak yang merdeka? Pikiran iseng, namun aku suka memikirkannya. Jika ada mesin pendeteksi kebahagian seseorang pasti lebih bagus lagi. Seberapa bahagia orang yang ada di dekatmu karena keberadaanmu? hmm jenius bukan? seperti alarm yang berbunyi, dengan bunyi beraneka ragam yang bisa kita pilih sesuka hati. Pasti Lucu.

Namun saat aku memandangnya, aku seperti menemukan kembali jalan meski untuk salah satu alasan. Dan pikiran tadi itu benar-benar konyol. Saat aku mengingat bahwa darah kami sama, kita sama-sama kehilangan, dan dia membutuhkan aku untuk saling menguatkan. Hanya itu kiranya yang membuat semua hal yang mati rasa ini hidup kembali. Ada kehidupan lain yang berdenyut. Meski untuk alasan besar yang indah sudah aku simpan dalam-dalam, kualihkan sementara, karena semakin aku berusaha menjaganya semakin membuatku salah dan asing. Maka aku ingin mengalihkannya hanya untuk memberikan pengertian, pemahaman, dan tentu saja cinta. Aku ingin menjaganya meski aku menemukan ada rasa antusias yang samar-samar menghilang dalam obrolan itu, dalam sapaan, dan rencana-rencana.

Aku masih bingung dengan konsep dan fakta yang sering kali berbeda. Antara ucapan dan tindakan. Tapi aku ingat seseorang pernah berkata-kata bahwa tiap saat orang perlu belajar tentang perubahan. Hanya untuk membuat agar kita lebih siap dan ikhlas. Tanpa perlu panik. ujian-ujian yang datang itu untuk meninggikan kualitas hidup kita, karena itu bersyukurlah. Hmm ini bijaksana sekali, semoga aku bisa menjalaninya. Terimakasih untukmu yang memberiku kata-kata ini.

Oleh karena itu saat kamu butuh perhatian, maka perhatianlah terlebih dulu. Saat kita butuh dihibur maka belajarlah menghibur terlebih dulu. Belajar menebar kebaikan dan kasih sayang kepada siapa saja, agar hidup tidak pernah sepi dan kesepian. Melakukan sesuatu bagi orang lain membuat hidup kita lebih bermakna.

Oke miss charming, cerialah...he he..karena baik saja tidak cukup, kita butuh tampil menarik he he...dan tentu saja menyenangkan. Hai...hellow...

Baiklah... Smile...Klik, kita akan membuatnya abadi, meksipun hanya dalam selembar foto!!!

Yogyakarta, 21 november 2010. 03:04

Hari-Hari Cengeng Sedunia...

Entah mengapa aku jadi gampang menangis, harusnya mengingatnya adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi saat ini aku sedang gelap,dan bertanya-tanya. Dan ucapan baik-baik saja, itu bukan jawaban yang memuaskan.

Ada perasaan diam dan pelan-pelan ingin menghalau aku pergi.
Ingin aku tak ada.
Dan aku bertanya-tanya, aku berprasangka.
Apakah aku pergi saja ya?

Jalan-Jalan ke Kota Tua


Aku akan selalu merindukannya. Suasana magis masa lalu yang menyeret kenangan entah kapan, menyeruak saat memasuki halamannya. Ada mobil tua yang diparkir di tepi jalan juga pedagang cendra mata yang berjajar di sepanjang jalan. Mekipun tak seindah yang aku bayangkan karena hari itu kesan bersejarah kota tua tertutup oleh perhelatan musik dan ramainya pengunjung. Apakah karena musim liburan? Namun suasana magis masa lalu, menyeretku kembali dalam lamunan. Saat kuedarkan pandangan tampak berjejer sepeda kumbang lengkap dengan topi lebar berenda yang kerap kita jumpai dikenakan noni belanda dalam film-film jaman dulu. Sepeda itu disewakan untuk keliling melintasi kota tua atau sekedar berfoto ria. Aku gembira, rasa mual selama perjalanan menguap seketika.


“Kita sewa sepeda yuk...” aku mengajaknya. Asik juga bisa naik sepeda pake topi dan kalo perlu sambil di foto, batinku.
“Ngga usah, buat apa sih...”
Baiklah, aku harus gembira kan? That's not big deal. Aku berjalan lagi. Melihat kesana kemari. Suasana ramai, dipenuhi celoteh ABG.

“Apa selalu begini? Kok rame, kotor lagi.”
“Biasanya sepi kok dan ngga kotor, mungkin karena ada acara musik. Wah ngga asik.”Serunya Gusar
“Ini wisata kaum intelektual.” Selorohnya dan aku tersenyum saja.

Kami berjalan-jalan lagi, tertawa lagi. Aku buka kamera yang kami bawa. Dasar banci foto, meski malu-malu tetap saja ingin di foto. Untuk kenang-kenangan. Ternyata kami tak beruntung, kamera eror. Wah payah. Aku tidak kehilangan akal.
“Pake HP aja.” Teriakku
Dia masih sibuk membetulkan kamera. Setelah dicoba cukup lama hasilnya tetap sama. Yah...sayang deh. Akhirnya kami memakai HP untuk foto-foto, meski hasilnya kurang maksimal namun masih bisa mengambil gambar.

“Wah view nya ngga bagus, ada tenda sih.”Dia berkomentar

Kami duduk-duduk di depan Musium Fatahilah, di depannya persis ada panggung besar. Aku tidak sempat masuk ke musium. Di halaman ada truk pengangkut peralatan pertunjukan, suasana hiruk pikuk. Kami cuek saja, tetap foto-foto dan bergaya.


Tiba di depan Cafe Batavia rasa haus melanda, aku pesan soda biar tidak ngantuk mengingat jalan pulang masih jauh. Kami minum bersama sambil mengamati bangunan yang sudah tua itu. Jendela-jendela kaca yang lebar dan panjang. Dengan korden berbahan lace putih bermotif bunga menutup setengah badan. Remang-remang lampu berpendar berwarna jingga menegaskan aksen tempo dulu. Dinding kayu dengan cat hijau botol. Suasana sepi tanpa musik.

Hari sudah menjelang malam, kami berniat pulang. Aku hanya sempat melihat Kantor Pos, Cafe Batavia, Musium Keramik, dan Musium Fatahillah. Hari itu tanggal 4 juli, aku berulang tahun yang ke 28. Aku merasa bahagia dengan “hadiah” sederhana ini. Hatiku penuh saat menyadari dia masih saja ada disini -disisiku- dekat sekali.

FKY dan Mati Lampu

Semalam aku pergi nonton Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Tahun ini FKY diadakan dari tanggal 7 juni sampai 7 Juli. Aku janjian sama teman-teman, namun saat tiba di sana tak semua bisa datang. Acara malam mingguan bareng terasa kurang ramai.

Aku belum sempat masuk ke arena Festifal ketika tiba-tiba mati lampu. Hmmm...Malam ini kurang beruntung batinku. Aku dan teman-teman memilih duduk-duduk di pinggir jalan sambil melihat lalu lalang kemacetan jalan. Kami duduk di depan Gedung Agung dan menonton atraksi orang makan api. Aku melihat atributnya bertuliskan Reog Ponorogo, meskipun sederhana dan apa adanya.Tidak seperti Kesenian Reog yang heboh, dengan warog yang besar.

Pemainnya ada orang dewasa dan anak-anak. Mereka belum ahli benar, namun kesalahan-kesalahan itu membuat permainan jadi terkesan lucu. Misal, saat melempar bola api ke mulut, ternyata mereka tidak pas menangkapnya (memakai mulut). Waktu salah seorang memasukkan badan ke tong Kayu, malah teriak sakit...sakit, sambil mendorong salah satu temannya.

Seoarang perempuan setengah baya mengedarkan topi bambu untuk menerima uang sukarela.

Melihat dari penampilannya, seperti kesenian jalanan. Mereka berpindah setiap saat, berpindah mencari keramaian. Musik pengiringnya hampir sama dengan penari jalanan yang sering aku temui di perempatan Kentungan. Memakai Gong yang dipukul berirama seperti iringan musik Jathilan.

Malam merambat pelan,mengingat suasana Jogja yang akhir-akhir ini kurang aman karena ada kejadian pembacokan di jalan raya, jam setengah sembilan aku memutuskan pulang.

Kami tak bisa melihat festifal, Malam minggu sedikit berwarna.