Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Ingin Ibu

Belakangan ini saya ingin sekali bertemu ibu, saya ingin sekali punya ibu. Yang selalu perhatian dan sayang tanpa saya memintanya. Yang mengerti apapun yang saya inginkan tanpa harus mengatakannya. Saya ingin ibu yang melahirkan saya hadir disini.

Saya ingin memanggilnya,…
Saya rindu sekali, sentuhannya yang menenangkan. Aromanya yang khas, masih jelas tertinggal dalam penciuman.

Saya masih ingat. Tiap saya pulang pada jam istirahat sekolah dan mendapati ibu tidak ada dirumah, saya selalu menangis. saya tidak melanjutkan sekolah pada jam berikutnya. Lalu teman-teman saya atau guru saya yang membawakan tas itu pulang. Sementara saya masih menangis sampai ibu datang. Kenangan itu sering mampir dalam ingatan saya akhir-akhir ini.

Ingatan kedua adalah sewaktu saya kepengin sekali makan sate. Ibu bela-belain membelikan untuk saya, padahal warungnya jauh. Penjualnya adalah teman ibu saya, mereka suka ngerumpi dan kadang sering lupa waktu. Hujan lebat sekali dan saya khawatir, pikiran buruk kemana-mana. Saya takut sekali, dalam penantian itu saya membuat janji banyak sekali, akan patuh, rajin belajar, rajin membantu dan sebagainya. Ini mungkin berlebihan, ini personal.

Saya kangen ibu yang memarahi saya. Mengomentari penampilan saya. Mengingatkan saya yang malas minum susu, karena saya tidak suka susu. Saya ingat dia selalu menunggui gelas susu saya hingga habis. Lalu mengingatkan saya untuk hal-hal baik lainnya.

Akhir-akhir ini keinginan itu rajin menghampiri saya. Saya ingin menghela nafas. Saya ingin ada jeda sejenak dari rutinitas, saya ingin tidak memikirkan apa-apa. Saya rindu nyaman darinya.

Ibu, saya ingin ibu disini. Ingin sekali ibu.
Ya Allah, mohon jaga ibu ya.

Stasiun

Akhirnya akan tiba saatnya pada hari yang biasa, betapapun sempurnanya sebuah hari. Akhirnya kereta itu juga yang membawamu pergi.
“Apa yang kamu lihat dari wajahku?” kamu bertanya.
“wajah perpisahan.” Jawabku
Bukankah itu menjelaskan segalanya.

Bertahun-tahun lalu aku selalu berfikir, disaat-saat seperti itu.

Seandainya kita tak tinggal di negera yang kacau. Seandainya kita tak perlu rumit memikirkan pekerjaan. Seandainya pekerjaan itu tidak membuat kita berjauhan. Mungkin kita tak perlu menanggung kesedihan di stasiun. Akhirnya aku harus membenci “jarak” sialan itu!

Janji itu membuat perutku mulas, namun hatiku hangat kembali.
Aku bilang, “Di manapun aku akan tinggal, asal ada kamu suatu hari nanti.”
Kamu bilang “Aku sulit bersama orang lain, karena aku punya kamu, jauh disini.”

Seperti daun-daun yang menguning, mudah jatuh karena hembusan angin, begitu rapuh.

Mengalami

Apa itu sedih? Sedih adalah mengalami. Apa itu kehilangan? Kehilangan adalah mengalami. Apa itu rindu? Rindu adalah mengalami. Apa itu bahagia? Bahagia adalah mengalami. Apa itu empati? Empati adalah merasakan. Bagaimana kamu akan merasakan jika kamu tak pernah mengalami.

Dua tahun lalu, saya membuka baju-baju ibu dalam kardus penyimpanan. Saya mencucinya, saya merawatnya dengan memberi wangi-wangian. Mencuci baju ibu seperti memandikan ibu kembali. Namun ada beberapa baju yang saya tinggal sebagian. Saya ingin menyimpan bau keringatnya, saat rindu aku akan menciumnya. Biarlah saya yang tahu. Sekarang saya jauh dari rumah, hanya menyimpan selembar foto mungil peninggalannya dalam sebuah KTP usang. Suatu hari ayah ingin foto itu dibuat lukisan, saya takut membuatnya sedih, saya bilang belum bertemu dengan pelukis. Beberapa kali dia bertanya hingga lupa.

Hari ini aku mengambil kartu ATM dan Foto itu terjatuh, seperti hatiku hari ini. Wajah itu masih sama, ekspresi yang sama.

Sunday morning!

Hari minggu yang berjalan sendu, dari pagi sudah hujan melulu lalu diakhiri gerimis yang pajang. Langit mendung membuat saya malas keluar. Menjadi manusia kamar seharian pasti membosankan. Hanya membaca buku di temani teh manis, roti, dan coklat. Tadi ada dering sms masuk, seorang teman mengundangku untuk masak bersama di rumahnya yang baru. Sungguh menarik, namun rumahnya jauh sekali butuh tiga puluh menit untuk mencapainya. Jauhkah? Jauh dan dekat tergantung perasaan kita bukan? Kami sudah membuat janji beberapa kali, namun tak kunjung ketemu.

Ceritanya temanku ini punya bayi baru, ah pasti lucu, saya suka bayi. saya merasa belakangan hidupnya penuh warna, dengan kesibukan barunya ini membuat hidupnya seimbang baik publik maupun domestik. Saya pun ingin seperti itu, merasa bahagia berjalan dan bergerak di dua wilayah. Dia belum pernah melahirkan namun, dia membantu merawat bayi sahabatnya yang singgle parent. Lelaki yang seharusnya menjadi ayah si bayi lari entah kemana.

Belakangan saya menemukan banyak cerita dan peristiwa buruk dari orang-orang di sekitar saya, dekat sekali. Saya naif, selama ini saya selalu mengaggap hanya terjadi di luar sana, jauh sekali. Hanya cerita di televisi, gosip, atau hanya kisah seseorang yang kebetulan mampir dalam otak saya yang selalu saya usir – jangan saya, karena saya tidak mau-. Selama ini saya resisten dengan hal-hal buruk. Selalu membayangkan hidup lurus dan teratur, belajar dan berusaha berjalan lurus untuk bahagia. Saya selalu berfikir sesuatu yang kita upayakan dengan baik akan berakhir baik, dan tentu istilah baik ini masih dalam sudut pandang saya.

Dalam perbincangan sambil lalu ini, teman saya bilang bayi ini nanti rencananya akan tinggal bersamanya dan dia yang akan menggantikannya menjadi single parent. “Oh betapa mulianya hatimu.” Respon saya seketika itu. “Ya sekali dalam hidup orang harus memilih peran, dan saya memutuskan itu.” Jawabnya.

Buka matamu! Tajamkan pendengaranmu! Ini hidup!

Suatu hari dia bertanya kepada saya, ingin cari rumah baru. Dia bilang buat si bayi. “Ha?” saya bingung tidak tau maksudnya? Dia meneruskan. “Temanku mau meneruskan kehamilannya. Saya akan tinggal untuk menemaninya.” Saya baru paham. Kami pernah belajar tentang seksualitas, tentang family planning, relationship, juga tentang aborsi. Waktu itu memang hanya sebatas teori, namun sekarang orang-orang di dekat kita mengalami dan kita terpanggil untuk terlibat memberi pemahaman atas pilihan-pilihan itu. Satu sisi merasa bangga terhadap orang yang mau bertanggung jawab dan memilih meneruskan kehamilan. Namun disisi lain tidak ingin mengutuk seseorang yang memilih menghentikan kehamilan dengan aborsi. That’s about choice! Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan seperti usia kehamilan, kondisi kesehatan, juga mental. Banyak kasus yang muncul adalah bukan saat aborsi namun trauma pasca aborsi. Rasa sakit dan perasaan bersalah yang terus menghantui, mimpi buruk, dan sebagainya. kenapa harus perempuan yang menanggungnya? Apakah laki-laki merasa bersalah dalam peristiwa ini?

Who is a man? Who is he? He is someone who make us cry in pain, isn’t he? He is someone who make us happy, Isn’t he. Who is good guy? Who is bad guy? Is he someone like people tell us? Is he someone like your thinking about?

Di kantor banyak kejadian serupa hampir mengisi minggu-minggu kami. Saat ada klien perempuan datang dengan berurai air mata. Tebakan kami selalu benar. Perempuan sebagai korban dari laki-laki yang tak bertanggung jawab. Saya jadi sedikit pusing.

Saya tidak boleh memandang hitam dan putih. Setiap orang memiliki peluang yang sama. Tak ada orang yang benar-benar jahat. Tak ada orang yang benar-benar baik. Karena dunia ini diisi oleh dua hal itu. Baik dan buruk, hitam dan putih, kuat dan lemah, dan sebagainya. Kita tinggal memilih dan menjalani. Kita pernah jatuh, namun kita juga bisa bangkit. Hari ini kita menangis namun siapa tau besok kita tertawa. Hari ini kita bersedekah, siapa tau besok tergoda untuk korupsi. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita adalah pribadi yang otonom.

Ada orang memilih jalan pahit atau jalan “hitam” untuk mempertahankan hidup. Ada orang yang memilih dunia “hitam” untuk menikmati hidup.

Hari ini Samuel Mulia penulis parodi idola saya bilang “It always has to be dark for the stars appear.”

Saya selalu berfikir baik. Teman saya bilang “kamu ini seperti kertas putih. Selalu terkejut dengan peritiwa buruk, diluar sana banyak orang jahat, banyak orang menipu, sadar dong!”

“Tenang kawan, saya mengalaminya, saya telah merasakannya. Saya dibohongi, lucu kan? Tertawa sajalah.”

Saya percaya tak ada yang sempurna, saya pun banyak kurangnya. Mungkin suatu hari saya bersikap buruk kepada seseorang padahal menurut saya baik. Mungkin suatu hari saya bersikap baik kepada seseorang, padahal itu buruk baginya. Oh God, semoga saya selalu mencintai dua hal itu, yang hitam dan yang putih itu dan pertemukanlah aku dengan jiwa-jiwa yang baik hati, yang mendengarkanku kala senang dan sedih, yang menemaniku di waktu baik dan buruk.

Hari ini saya berdoa buat mereka yang selalu menemani saya selama ini. Mereka yang baik kepada saya. Buat mereka yang telah menguji kesabaran saya. Buat mereka yang telah jahat sama saya. Saya tak punya apa-apa, saya tak kehilangan apa-apa. Saya berharap dapat bahagia dengan cara yang baik, tanpa menyakiti dan melukai orang lain.

Terperangkap hujan

Di luar hujan deras. Itu berarti harus menunda pulang, lembur lagi. Tidak apa-apa, aku mencintai pekerjaanku, yang kadang bikin pusing. Pertama bergulat dengan angka, yang kedua bermain dengan kata-kata. Ngga nyambung!

Hujannya tidak terlalu deras namun mantelku semi kain, jadi mudah tembus. Sebenarnya bagus sih, mirip jubah Harry Potter namun berwarna merah. Itu mantel paling keren yang pernah kulihat, Fashionable gitu. Itu punya sodara yang dia tinggal di Jok motor yang sedang kupakai. Hmm aku mati gaya setelah makan semangkuk bakso. Mau kerja lagi, tapi malah terhipnotis lagunya Utada Hikaru “First Love”. Aku ngga tahu maksudnya, pakai bahasa jepang, tapi aku suka musiknya.

Ruanganku sekarang paling belakang, paling pojok, dan paling sepi. Cocok untuk menulis, cocok untuk orang yang tidak suka keramaian seperti aku. Dulu aku benci ruangan ini, namun belakangan aku mulai menyukainya. Waktu awal kuliah, aku pernah jadi manusia kamar, jarang keluar, banyak baca buku. Satu hari satu buku. Minus tambah, padahal aku malas pakai kacamata. Kacamata itu mengganggu, seperti ada beban di hidungmu, jika lama memakai jadi pusing. Lalu aku mulai mengurangi membaca...lalu berubah malas membaca. Benar-benar malas! Lebih suka mendengarkan orang bicara, meskipun kadang ngga tau benar atau salah dengan apa yang mereka bicarakan.

Belakangan aku sering berbincang dengan penjaga kantor. Kami jadi semakin dekat, aku menjadi pendengar setianya, aku tahu dia adalah perempuan tua yang kesepian tanpa -anak. Saat aku datang terlalu pagi, dia selalu berbagi makanan denganku. O ya dia suka membuat roti bakar untuk sarapan, seperti hari ini. Hari ini aku tidak puasa.

Aku banyak menemukan cerita-cerita menarik darinya dimasa muda. Dia adalah salah seorang anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Sisa-sisa sifatnya yang kuat dan berani masih tertinggal saat bercerita. Usianya sekarang 71 tahun. Dia masih energik dan suka berolahraga. Beberapa kali menawariku ikut jalan pagi di Malioboro, biasanya tiap hari sabtu dan minggu. Namun belum pernah sekalipun aku menuruti ajakannya. Selalu bilang nanti.

Aku juga bahagia berteman kata-kata, mengajak bicara dalam buku-buku dan dunia maya. Aku bicara kepadanya, bicara banyak hal dan apa saja. Tidak pernah protes atau menertawakan. Padahal aku ingin dia menghinaku, ayo hina aku! Lalu aku akan menghargaimu. Ayo marah padaku, lalu aku akan lebih sabar padamu. Kemanakah perginya amarah? Bisakah kepergiaanya meninggalkan gelisah seperti bau tanah basah yang lembut menguar samar, setelah ditinggalkan hujan. Lalu semua menguap oleh mentari, lalu semua kering, lalu semua tiba pada hari yang biasa. Sendirian.

Akhir-akhir ini aku menerima banyak hadiah yang ngga aku duga. Hmm mulai dari buku-buku, coklat, baju, hingga HP. Hmm aku suka kemarin dapat HP model Flip, sudah lama pengen model itu. Akhirnya punya juga. Aku malas pake BB lagi, meskipun memudahkan aktivitasku yang lain. BB jadi mengganggu karena bunyi melulu.

Pekerjaan, teruslah datang…aku menyukaimu. Apapun bentukmu, buatlah aku sibuk agar aku semakin produktif. Agar aku bisa menggunakan waktu dengan lebih bernilai. Hmmm...
aku teringat puisi-puisi sapardi dalam kaset bersampul coklat, entah dimana sekarang?

Pikiranku Pagi Ini


Pagi yang dingin, aku tidak boleh terkurung di dalam kamar ini, kamar yang dulu kusenangi namun belakangan ingin selalu kutinggalkan. Ingin pergi ketempat dimana membuat aku merasa ringan dan damai.

Aku keluar naik mio, seminggu ini aku tukeran motor dengan saudara. Ada fikiran lucu naik mio membuat perasaanku jadi feminin, sebuah kesenangan kecil saat membayangkan ini. Aku merasa rileks, semoga ayah mengabulkan permohonanku untuk mengganti. Aku melaju ke lapangan badminton di daerah Nitikan dekat terminal lama, mungkin aku hanya menonton atau sedikit bermain. Karena aku sudah lama tidak main badminton, takut sakit. Aku teringat pertama kali main, saking semangatnya aku kurang pemanasan. Efeknya dadaku panas sekali seperti terbakar, Nafasku jarang-jarang, keringat mengucur, panasnya bukan main. Aku bertanya-tanya kepada teman-temanku. Aku ini kenapa? Mereka bilang aku kurang pemanasan. Ooooh begitu? Lalu aku minum pelan-pelan. Aku menertawakan kebodohanku.

Bayanganku tertuju pada politikus yang meninggal karena serangan jantung, yang belakangan ramai mengisi acara infotainmen, dia adalah Adjie Massaid. Dia meninggal setelah main bola. Aku membayangkan dan menghubungkan apakah kurang pemanasan dalam olahraga juga bisa fatal? Dalam analisa laporan Kompas yang kubaca minggu lalu, kondisi fisik seseorang yang kurang fit, kurangnya pemanasan dalam berolahraga bisa memicu kerja jantung tidak sempurna jika ini tak diantisipasi maka bisa fatal, banyak kasus atlit yang meninggal di tempat latihan. Hmmm....Aku ngeri membayangkannya.

Soal kematian ini, aku punya pikiran semakin lama seiring bertambahnya waktu, kematian itu akan semakin mendekati kita. Kita hanya perlu bersiap-siap menyambutnya.

Aku sampai di lapangan itu, namun di dalam masih sepi, tak seperti biasanya. Aku menunggu di luar. Lapangan itu bersebelahan dengan gedung TK. Disana banyak anak-anak kecil rame sekali. Bermain kesana kemari, bertingkah lucu dan tertawa riang. Segala macam media permainan mereka coba. Jaman sekarang macam-macam alat permainan disediakan untuk membuat anak-anak gembira. Gedung itu tidak terlalu luas, alat-alat itu di taruh di halaman yang sempit. Dari desainnya Terkesan memaksa. “Karena itu gedung TK maka harus ada media untuk bermain.” Apa mereka tau semua permainan itu terkesan mekanis? Berulang-ulang dan menjemukan. Ada “prosotan”, ayunan, dan tangga-tangga dengan bentuk kubus, yang semuanya di cat warna-warni. Semuanya tersedia dengan seragam.

Jaman aku TK dulu, alat-alat permainan itu tidak ada di sekolah. Namun kita bisa menikmati permainan yang sama dengan membuatnya sendiri. Bedanya tidak dicat warna-warni. Kita main ayunan yang di gantung di pohon, buat rumah-rumahan dari kardus semen, belajar naik pohon, dan untuk yang satu ini aku paling tidak bisa.

Bermainlah anak-anak, ini adalah masamu untuk bermain. Saat aku kecil, aku ingin sekali menjadi orang dewasa. Berharap melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh orang dewasa. Waktu itu aku selalu mendapat banyak larangan, tak boleh ini, tak boleh itu, dengan alasan masih anak kecil. Saat kecil aku sering mengukur kakiku dengan ubin, apakah sudah melewati garis, jika sudah maka aku menganggap diriku sudah dewasa. Ah...ini adalah rahasia, bagaimana ubin semen itu bisa jadi ukuran? Aku juga mengukurnya dengan ukuran sepatu, waktu itu ukuranku selalu nomer 36. Hmm...kapan bisa jadi 40? Aku membatin saat dewasa nanti ukuranku adalah 40 dan ternyata benar, ukuran sepatuku sekarang adalah 40.

Bermainlah anak-anak yang lucu, yang manis, nikmati duniamu. Aku iri melihatmu, jika boleh aku ingin kembali menjadi anak kecil seperti dirimu. Kembali polos, selalu jujur, tidak berbohong dan dibohongi.

Pikiranku kemana-mana, dengan head set menutup telinga. Suara Afghan, penyanyi dengan colour suara lembut yang sangat kusukai merasuk dalam. “Bukan Cinta Biasa”, mengalun perlahan, menemani pagiku yang dingin dan sepi. Mengapa aku merasa sepi ditengah riuh ramainya teriakan dan celoteh anak-anak itu. Lagu anak-anak sayup-sayup terdengar, namun lagu dalam handphoneku menghisap, menyeretku untuk tenggelam. Saat lirik “terimalah pengakuanku” di akhir lagu...rasanya air mata ini bisa tumpah kapan saja. Oh Tuhan...jika engkau menciptakan perasaan ini untuk bahagia dan sedih, berikanlah bahagia itu lagi. Aku menerima yang sederhana itu, asalkan abadi dan tak pernah terbagi lagi.

Ditempat lain, orang kesal memikirkan negara yang kian kacau. Yang tak bisa melindungi warganya dari kekerasan. Betapa mudahnya orang mati di negeri ini. Hanya karena beda keyakinan, hanya karena ingin merdeka. Orang Ahmadiah di bunuh karena mempertahankan keyakinannya. Dan yang membunuh pun mengatasamakan agama. Kenapa harus ada agama jika tidak membuat kita baik? Apakah agama itu? Apakah dia minta dibela dengan cara itu? Seandainya dia bisa bicara.

Sebagian kecil orang di negeri ini, berfoya-foya, menumpuk harta menikmati uang hasil korupsi. Mereka merampok, untuk kesenangan yang tak pernah ada habisnya. Mereka menutup mata ketika ada berita kelaparan dimana-mana, ada lumpur yang menenggelamkan rumah dan harta benda, dan membuang muka saat melihat banyak anak jalanan putus sekolah tinggal di kolong jembatan.

Dimanakah nurani? Dimanakah? Berikanlah keadilan itu...! pikiranku rumit, melompat-lompat. Aku mengingat ucapan. That’s just live honey...not heaven!

Seperti ini loh...!

Katakanlah seperti ini, seperti dulu kamu mengatakannya untuk meyakinkanku. Saat kita sama-sama takut, ragu, dan bertanya-tanya.

"Ada gelap, barangkali takut
didepan jalan yang tengah kita lewati.
Mari sama-sama kita enyahkan
atau kita simpan dalam telapak kaki kita
Mari kita terus
sebab tanpa kamu, takut itu akan berlanjut
menjadi cemas
kalau harus senang atau sedih
aku sangat ingin merasakan bersama
Ah, mari kita siapkan peta kemungkinan lagi
Dan aku mohon kamu belum jera
berada disampingku
Mari kita lewati bersama-sama
karena kamu adalah hati yang tetap
dalam jiwaku"
(sfs)

I say: I want to live anywhere, in everyplaces, where there is you forever...

Mom, Come in

Mom, I miss you ...
I want to chat with you
how come?
when all people do not understand me
I'd love to meet you

Mom
I can not stand it anymore
Where should I stay?
mom, I'm tired of struggling alone
Only you, Who understand me
Who love me unconditionally, after the Lord

Mom, come to me tonight
to get rid of this sadness
I want to sleep on your lap
Come,wipe these tears

Mom, how many times should I call you
Come, I need you
when I am weak and helpless
your presence will replace all wounds
night was very long, as I've ever met morning again
please,take me into your world
I run to you, every single time

Pertemuan

Aku bertemu denganmu dalam keadaan tidak sempurna. Keaadaanmu dan keadaanku. Keadaanku yang hampa dan sepi setelah kehilangan bunda. Aku menemukanmu terasing, payah, dan sendirian. Suatu hari tiba-tiba merasa khawatir dengan keaadaanmu. Aku berbincang dengan penjaga kampus tentangmu, hari-harimu yang tidur di kampus itu. Aku berfikir lama, kenapa aku menghawatirkanmu? Ini hanya khawatir biasa sebagai sesama teman?

Suatu malam ada rapat di lantai dua, aku pesan nasi goreng. Malam itu aku tidak terlalu lapar, reflek saja ikut pesan makanan. Teman-teman rame berceloteh, lalu ada yang teriak "siapa yang belum makan?" Teman-teman masih rame. Aku melihatmu sepintas, diam. Kamu bilang " Aku belum." Lalu dengan santai, makan punyaku aja mas, aku masih kenyang. " " Eh serius, makasih ya, kamu baik sekali. " well perasaanku senang.

Hari demi hari, aku mulai mengamatimu, dan lebih sering memperhatikanmu. Aku bertanya-tanya tentang perasaanku, dan tak berani menyimpulkan. Aku hanya merasa senang berbincang denganmu yang tertutup itu, dan nyatanya kamu sedikit bicara. Kamu meminta pendapat, kamu memberiku dua buah tulisan sebuah cerpen. Kamu mau aku menilainya. Aku suka membacanya. Aku suka tulisanmu yang halus. Aku mulai tertarik? I don’t know?

Hingga suatu hari aku bertemu dengan saudara lama, yang beberapa bulan numpang di tempatku. Aku bicara banyak dengannya. Entah mengapa aku bersemangat bercerita tentangmu. Dia memotivasiku untuk membuka hati. Dan aku tidak tau bahwa kejadian selanjutnya adalah kita sering jalan untuk makan malam. Aku merasa senang itu saja, tidak lebih. Aku takut jatuh cinta.

Suatu malam minggu kamu sms, mengajakku makan malam. Seperti biasa aku menjemputmu aku heran, malam itu kamu rapi sekali. Whats happen? Aku tidak tau. Kita putar-putar di jalan, kamu ingin membelikanku boneka mickey. Kita mendatangi beberapa toko. Hmm uangmu tidak cukup, aku tersenyum saja. "Kita makan saja ya." Aku mengangguk.

Dan disanalah di warung steak and shake, kamu bicara banyak tentang perasaan-perasaan. Bahwa aku membuat perasaanmu kacau. Selama ini kamu meyakini hidup menyendiri itu menyenangkan. Dan seterusnya….malam itu kamu mengajukan proposal, kita memutuskan untuk pacaran.

Hari-hari setelahnya adalah biasa saja, karena aku masih belum percaya. Bahwa memiliki teman dekat itu menyenangkan, memang iya, namun aku masih takut jatuh cinta karena aku takut patah hati. Itulah mengapa seumur itu aku belum pernah pacaran. Aku masih bertanya-tanya tentang cinta dan bagaimana mencintaimu. Seminggu berikutnya kamu bertanya, "Apa kita serius?" "Ya" jawabku yakin, tak seyakin suaraku. "Baiklah, kita serius" Jawabmu.

Lalu sebulan berikutnya kamu menangis saat aku hendak pulang, kamu menangis takut kutinggalkan. Pagi-pagi kamu menyodorkan buku harianmu. Kamu menyuruhku membacanya…hari itu aku baru percaya bahwa kamu mencintaiku. Hari itu aku mulai percaya dan berani mencintaimu. Hari itu aku baru percaya kita saling mencintai. Bahwa sejak hari itu dengan keluguan, kebodohan, dan kepolosanku…aku hanya ingin mencintaimu saja.

Buah pikiran

Ada kata-kata menarik yang slalu ku ingat akhir-akhir ini. ini bisa mencerahkan, ini bisa menguatkan tentang perasaan-perasaaan.
"Marriage is time to you to stop compare someone with someone else."

Have you?

Hari-Hari Cengeng Sedunia...

Entah mengapa aku jadi gampang menangis, harusnya mengingatnya adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi saat ini aku sedang gelap,dan bertanya-tanya. Dan ucapan baik-baik saja, itu bukan jawaban yang memuaskan.

Ada perasaan diam dan pelan-pelan ingin menghalau aku pergi.
Ingin aku tak ada.
Dan aku bertanya-tanya, aku berprasangka.
Apakah aku pergi saja ya?

Jalan-Jalan ke Kota Tua


Aku akan selalu merindukannya. Suasana magis masa lalu yang menyeret kenangan entah kapan, menyeruak saat memasuki halamannya. Ada mobil tua yang diparkir di tepi jalan juga pedagang cendra mata yang berjajar di sepanjang jalan. Mekipun tak seindah yang aku bayangkan karena hari itu kesan bersejarah kota tua tertutup oleh perhelatan musik dan ramainya pengunjung. Apakah karena musim liburan? Namun suasana magis masa lalu, menyeretku kembali dalam lamunan. Saat kuedarkan pandangan tampak berjejer sepeda kumbang lengkap dengan topi lebar berenda yang kerap kita jumpai dikenakan noni belanda dalam film-film jaman dulu. Sepeda itu disewakan untuk keliling melintasi kota tua atau sekedar berfoto ria. Aku gembira, rasa mual selama perjalanan menguap seketika.


“Kita sewa sepeda yuk...” aku mengajaknya. Asik juga bisa naik sepeda pake topi dan kalo perlu sambil di foto, batinku.
“Ngga usah, buat apa sih...”
Baiklah, aku harus gembira kan? That's not big deal. Aku berjalan lagi. Melihat kesana kemari. Suasana ramai, dipenuhi celoteh ABG.

“Apa selalu begini? Kok rame, kotor lagi.”
“Biasanya sepi kok dan ngga kotor, mungkin karena ada acara musik. Wah ngga asik.”Serunya Gusar
“Ini wisata kaum intelektual.” Selorohnya dan aku tersenyum saja.

Kami berjalan-jalan lagi, tertawa lagi. Aku buka kamera yang kami bawa. Dasar banci foto, meski malu-malu tetap saja ingin di foto. Untuk kenang-kenangan. Ternyata kami tak beruntung, kamera eror. Wah payah. Aku tidak kehilangan akal.
“Pake HP aja.” Teriakku
Dia masih sibuk membetulkan kamera. Setelah dicoba cukup lama hasilnya tetap sama. Yah...sayang deh. Akhirnya kami memakai HP untuk foto-foto, meski hasilnya kurang maksimal namun masih bisa mengambil gambar.

“Wah view nya ngga bagus, ada tenda sih.”Dia berkomentar

Kami duduk-duduk di depan Musium Fatahilah, di depannya persis ada panggung besar. Aku tidak sempat masuk ke musium. Di halaman ada truk pengangkut peralatan pertunjukan, suasana hiruk pikuk. Kami cuek saja, tetap foto-foto dan bergaya.


Tiba di depan Cafe Batavia rasa haus melanda, aku pesan soda biar tidak ngantuk mengingat jalan pulang masih jauh. Kami minum bersama sambil mengamati bangunan yang sudah tua itu. Jendela-jendela kaca yang lebar dan panjang. Dengan korden berbahan lace putih bermotif bunga menutup setengah badan. Remang-remang lampu berpendar berwarna jingga menegaskan aksen tempo dulu. Dinding kayu dengan cat hijau botol. Suasana sepi tanpa musik.

Hari sudah menjelang malam, kami berniat pulang. Aku hanya sempat melihat Kantor Pos, Cafe Batavia, Musium Keramik, dan Musium Fatahillah. Hari itu tanggal 4 juli, aku berulang tahun yang ke 28. Aku merasa bahagia dengan “hadiah” sederhana ini. Hatiku penuh saat menyadari dia masih saja ada disini -disisiku- dekat sekali.

My Valentine


Mau latah ah…ikutan “merayakan Hari valentine”. Meskipun aku sendiri tidak menganggap ini penting, tapi toh akupun bertanya untuk sekedar memancing perhatian.
“Tau ngga hari ini hari ini hari valentine loh…?” tanyaku via sms.
“Tau dung, Aku kan mencintaimu sepanjang 365 hari. Valentine is just celebration for everyone who love vestive. He..he…” begitulah jawaban yang aku terima.

Aku diam sebentar . Hmmm baiklah…

Everything gonna be just fine, jawabku dalam hati…
Lalu aku ingin sekali bernyanyi ….My valentine-nya Martine Mcbride

If there were no words,
no way to speak,
I would still hear you
If there were no tears,
no way to feel inside
I’d still feel for you

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart, until the end of time
You’re all I need,
my love, my valentine

All of my life,
I have been waiting for,
all you give to me
You’ve opened my eyes,
and showed me how to love unselfishly
I’ve dreamed of this a thousand times before
In my dreams I couldn’t love you more
I will give you my heart until the end of time
You’re all I need,
my love, my valentine

La da da
Da da da da

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart, until the end of time
’cause all I need,
is you, my valentine
You’re all I need,
my love, my valentine

Sementara aku menulis ini, diseberang ruangan teman-teman bermain gitar sambil menyanyikan lagu Kaulah segalanya punya Ruth Sahanaya. Dengan suasana mellow, gerimis dan dingin.


*Foto diambil dari www.mytorontoflorist.com

Kesenangan Kecil


Ada kesenangan kecil yang slalu membuat aku ingin lekas pulang akhir-akhir ini. Kantor menjadi begitu membosankan. Dengan rutinitas mekanis, dan tak bisa menantangku untuk berbuat lebih banyak karena mindset yang “sempit”. Ini tak bisa dibiarkan terlalu lama bukan?

Siklus orang bekerja
. Seperti daur hidup suatu produk. Lama-kelamaan menurun karena konsumen merasa bosan, kalau sudah begini mesti ada variasi. Butuh ide yang kreatif.

Daripada terus memendam bosan, mendingan kita melakukan sesuatu. Bukankah Tuhan mengkaruniakan kita akal untuk berfikir dan tangan untuk berbuat sesuatu. Tak ada yang bisa membelenggu pikiran kan?

Ceritanya begini, suatu sore yang sepi karena jam menjelang pulang, aku ada di ruang belakang mencuci tangan untuk bersih-bersih. Lalu muncul bu Narto, dia adalah pegawai kantor yang tiap hari menyediakan minum dan bersih-bersih ruangan. “Kemarin aku habis belajar menyulam mau lihat nggak? ini belajar, di acara sosial gratis dapat alat-alat juga tinggal datang langsung diajari, mbaknya pinter-pinter dan sulamannya bagus-bagus.” Kata bu narto.

Ya, sekarang aku lagi senang menyulam.

Aku yang senang hal-hal tentang jahit menjahit dan pernak-pernik, langsung mau dan mencoba. Dia bilang kalau mau rajin, ini bisa menambah uang saku. Ha…ha..aku senyum-senyum aja…pas banget sepertinya. Karena aku suka yang beginian, -gila fashion- eh ada bonusnya dapat duit. Anggap saja iseng-iseng berhadiah.

Sepertinya ini cocok untuk refreshing….


Mulanya ak cuma berniat menyulam untuk diri sendiri. Dari pada melamun, nonton TV, karena lagi ngga terlalu sibuk. Ternyata banyak teman-teman yang suka. Dan mereka jadi banyak yang pesan untuk di sulam-in. he..he.. jadilah sekarang punya “bisnis” sampingan.

Untuk sementara baru melayani jilbab dulu. Karena lebih simple. Dan tidak banyak makan waktu. Mengerjakannya juga untuk mengisi waktu luang.

Material yang dipakai buat nyulam antara lain, pita, benang sulam, batu-batu, dan payet. Tapi semua bisa diatur sesuai permintaan.

Siapa mau….? He…he... silahkan menghubungi aku…

Untuk sementara, masih memberi tarif yang murah, karena masih perkenalan. Dan baru membuat design yang lebih variatif…

Ini juga memancingku, sepertinya aku mesti giat belajar corel draw agar bisa membuat design yang lebih rapi dan simetris. Selama ini cuma pakai tangan, yang hanya mengandalkan feeling.

He…akhirnya bisa melebar kemana-mana, akhirnya selalu masih ada banyak hal yang ingin kita pelajari dan lakukan. Akhirnya semangat itu datang ketika kita selalu mampu membangkitkan fikiran bahwa masih banyak hal yang bisa kita lakukan dan belum kita lakukan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menghidupkannya, dengan selalu menajamkan pikiran kita. Sebagai ungkapan rasa syukur.

New day, always come.



nb: foto-foto di atas hasil sulamanku..

Boring

Pernahkah kita bertanya kenapa bosan itu ada, pada saat apa bosan itu datang? Bisakah kita memilih untuk tak didatangi rasa bosan. Atau masalahnya adalah bagaimana kita mengisi suasana, menikmati bosan.Aku sedang bosan dengan rutinitas yang ada, seperti kita kembali dalam keadaan, suasana yang sama. Membayangkan untuk tak kembali dan menghindarinya. Seorang teman pernah bilang, jangan melewati jalan yang sama, coba ambillah jalan yang berbeda, itu akan membuat suasana harimu jadi lain.


Aku tersenyum saja, mungkin benar apa yang dikatakannya tapi, ah sok tahu...pikiranku yang lain mengumpatnya. Sok tahu!

Dan aku lalu memikirkan pantai, pantai yang luas, yang batasnya tak bisa kita lihat. Aku suka pantai. Barangkali mengunjungi pantai dapat membuat pikiran damai. Pantai seperti kekasihku. Saat ini aku ingin menemuinya. Berjalan-jalan disampingnya, disamping air yang bergulung, disamping ombak.

Saat air menjilati kaki, lalu menjauh dan datang lagi. Suara berdebur dan bau amis air asin, hangat tercium. Saat aku memandang laut yang seperti tak bertepi itu, yang luas itu aku seperti memandang kebesaran, dan semua yang hadir dalam kehidupan ini jadi bukan apa-apa.
It’s simple thing!
* Foto Parang tritis, diambil dari www.trulyjogja.com

Mimpi Yang Iseng





Dunia fashion selalu menarik hati kaum hawa, karena itu tiap ada pagelaran busana 75 persen yang hadir dapat dipastikan adalah perempuan. Aku sendiri senang sekali ketika dibelikan baju baru, kesenangan anak-anak, anak perempuan tentu saja. waktu itu pasti tidak tahu apakah fashion itu, kata yang tidak pernah didengarkan, kalaupun mendengar pasti kedengaran asing dan aneh ditelinga anak kecil. Maksudku suka baju baru. Namun aku akan ceritakan pengalamanku tentang baju baru, ini kuingat saat masih kecil setiap aku sakit maka akan sembuh ketika dibelikan baju baru. Tentu saja tidak ada hubungan antara baju baru dengan obat penurun panas atau obat flu. Namun baju seperti obat dikala aku sakit. Rasa senang bukan kepalang ternyata mampu memberi sugesti yang luar biasa untuk sembuh.




Hal ini mempengaruhi pandanganku tentang dunia fashion, hingga dewasa. suka melihat acara-acara TV tentang Mode, memelototi majalah mode atau sesekali mengahadiri acara fashion show ala mahasiswa, yang tiketnya bisa didapat dengan murah-meriah, bisa juga dengan gratisan, masuk dengan sembunyi-sembunyi, atau Pedekate dengan teman-temanku yang kebetulan beberapa diantaranya menjadi mahasiswa tata busana dan kalau mereka mengadakan pagelaran. Aku juga sering iseng-iseng bermimpi menjadi perancang busana, memiliki butik, dan sebagainya. Namun semua itu hanya berakhir dalam mimpi.




Aku tidak fashionable, tentu saja...dari sudut manapun. Namun hati kecilku bilang, aku cinta fashion. Gemar berimajinasi, namun tak sanggup membuatnya sendiri. Membuat gambar aja payah. Aku menyebut hanya imajinasiku sendiri yang tahu. Barangkali itu.




Namun ada kesenangan kecil, belakangan banyak teman-teman yang memintaku jadi consultant design,..... busheeet....Cuih...bangun dodol...! maksudku bukan itu ya sejujurnya begini, akhir-akhir ini aku sering dimintai pendapat teman-temanku waktu mereka memilih baju, atau menjahitkan baju, memilih sepatu, memilih bahan, ataupun menggambarkan desainnya. Tentu aku senang jika akhirnya mereka memutuskan untuk menerima saranku. Dan lebih senang lagi ketika mereka puas dan memuji pilihanku. He....he...lalu imajinasiku melayang melampaui awan, seandainya dulu aku sekolah jurusan tata busana pasti peluang untuk menjadi designer pasti terbuka lebih lebar...mungkin kelak akan menyaingi designer ternama yang diam-diam menjadi idolaku -Anne Avantie- yang asal semarang itu. Konyol banget rasanya...




3 Februari lalu, aku datang ke acara Fashion Show temanku Yuli, di Kampusnya Universitas Negeri Yogyakarta, dia adalah mahasiswa tata busana. Hari itu yuli akan memeragakan busana kebaya hasil karyanya. Pegelaran hari itu bertema Indonesian Beauty. Bajunya sendiri diberi nama Ligh of gold yang artinya cahaya dari emas. Nama ini mewakili penampilan busana model kebaya yang Dia rancang berwarna coklat keemasan. Efek kemilau emas ini berasal dari taburan payet yang dipasangdi kebaya tersebut, yang berbentuk bunga-bunga,daun, lekukan, yang bercorak simetris. Payet yang dipilih pun yang berkualitas bagus, dia menyebutnya payet jepang.




Dengan bustie dibalik kebaya mempertegas kesan femnin, dari lekuk dada, yang terlihat ramping namun berisi. Bustie tak bisa dilepaskan dari kebaya, tanpa bustie kebaya akan kehilangan keindahannya, begitu konon ceritanya.




Kika : Yanti dan Yuli




Aku datang bertiga, dengan Iis dan Tina. Kami masuk gratis dengan embel-embel mau jadi pendamping juri plus mau pakai baju serba hitam. Meskipun kenyataannya ketika disana kami seperti penonton biasa, hanya menonton dan juri tak butuh didampingi, bahkan kita nggak ngerti siapa nama jurinya. Pakai Hitam siapa takut...! padahal aku sendiri kurang suka warna hitam. Tapi ngga pa-pa yang penting gratis. Akhirnya tanpa ba-bi-bu kami memasuki ruangan dengan mulus, dengan cuek. tanpa ditanya tiketnya. He..he.. gretong...




Pagelaran busana yang mengusung tema Indonesian Beauty ini kebanyakan menampilkan model kebaya yang dimodifikasi dengan beragam design dan warna. Para mahasiswa ini juga dituntut sekaligus menjadi peragawati. Dosennya menyebut “”peragawati dadakan” dalam sambutannya. Sekitar 80 peserta menampilkan hasil rancangannya.




Acara yang dimulai pukul 10.00 ini selesai pukul 13.00. waktu yuli berlenggak lenggok seperti peragawati, kami teriak-teriak menyebut namanya. Supporter gitcu loh...




Selain Yuli ada juga Yanti, dia bekas teman kos dulu. Yanti juga membawakan hasil rancangannya yang berwarna coklat. Acara diakhiri dengan pengumuman pemenang dan penyerahan tropi. Meski teman-temanku tidak menang. tapi kami semua senang... sudah bisa cuci mata.


Sholat Idhul Adha

Hari, Senin kemarin 20 Desember 2007. Aku dan kawan-kawan sholat Ied bareng di Masjid Kampus UGM. Hari itu umat muslim sedunia memperingati hari raya Idhul Adha. Hari orang berkorban.





Suci, Bunga, aku dan Eka,...


Sholat Ied bareng ini seperti semacam rutinitas tiap tahun. Rutinitas dalam arti kumpul bareng, bagi yang ngga bisa mudik. Aku, Suci, Bunga, Eka, dan Imuth. mereka adalah teman-teman kos, sewaktu di asrama Putri Komojoyo. Mereka adalah teman-teman yanng mnyenangkan. Aku berangkat belakangan sekitar jam 06:15 wib.



Setiba di Masjid Kampus , aku melihat Jamaah sholat Ied banyak sekali. Shof berjejer rapi sampai ke taman luar Masjid. Kondisi lapangan masih basah, bekas embun dan sisa hujan semalam. Panitia masjid sudah tanggap, taman berumput itu dialasinya dengan koran, jadi tidak perlu repot lagi. Alhamdulillah,baru berjalan mendekati shof ada ibu-ibu yang memanggil, jadi ngga bingung. Aku seperti mendapat berkah kemudahan, pikirku.





Aku masih lihat-lihat, mencari teman-teman. Aku berharap bisa sholat berdekatan, tapi ngga ketemu, aku kirim pesan sholat terpisah dulu nanti ketemunya habis sholat. Ada beberapa jamaah yang mengabadikan moment tersebut dengan membawa handicam. Tidak ketinggalan abang penjual balon, ternyata creatif memanfaatkan situasi dengan menjual balon untuk anak-anak kecil. Balonnya warna warni.






Aku duduk dan memakai mukena,di samping kiri dan kananku ada ibu-ibu dan seorang nenek, mereka tersenyum ramah. Setelah itu kami sudah khusuk membaca Takbir, Tahmid, dan Tahlil. Dalam pikiran dan keheningan masing-masing.


Dari kiri ke kanan, Eka, aku Imuth, Bunga dan yang dibawah itu suci.


Dari pengeras suara, terdengar pemberitahuan bahwa sholat akan dimulai tepat pukul 06:45

Wib dan para jamaah diharap segera mempersiapkan diri.


Jam 06:45 wib tepat Sholat dimulai.



Selesai sholat, ada Khotbah sholat Ied. Khotbah ini termasuk dalam rangkaian Ibadah Sholat, mendengarkan dengan khusuk menjadi syarat untuk menyempurnakan Sholat. Inti khotbahnya, dewasa ini banyak sekali sadara kita hidup dalam garis kemiskinan, susah untuk mencari makan, tidak bisa sekolah, tidak punya pekerjaan,namun disi lain banyak dari saudara kita yang juga sangat kaya berlimpah harta dan memiliki banyak mobil mewah. Oleh karena itu pda kesempatan hari Idhul Adha ini hendaklah menjadi spirit kita untuk berkorban, berbagi dengan saudara kita yang kurang beruntung. Kita berbagi kenikmatan dan rezeki untuk menyucikan diri.



Ultah Fahri



Hari ini tanggal 17 Desember, Fahri Ulang Tahun…
Perayaan yang sama, pengulangan yang sama…nggak terasa sudah 26 tahun…

Akhir-akhir ini sering hujan, maklum memang musim hujan…Meskipun demikian hujan tak bisa diprekdisikan. Kadang siang hari sangat panas namun tiba-tiba bisa hujan. Namun hari ini Alhamdulillah nggak hujan, jadi enak buat keluar rumah.



Aku mau bikin syukuran kecil-kecilan…beli kue tart mini buat ngerayain ultahnya. Tadi pagi sih sudah ngucapin selamat , tapi baru lewat telepon. Fahri seneng banget, itu kelihatan dari ekspresinya yang terus menahan tawa saat menjawab teleponku. Fahri bilang aku orang pertama yang ngucapin, Fahri juga ngga sadar kalau hari ini ulang tahunnya. Sepertinya surprise.

Sepulang dari kantor aku mandi, lalu pergi ke toko kue. Aku lihat-lihat…eh akhirnya pilih Black Forest. Kayaknya enak nih… tart mini. Buat berdua. Lalu aku ke kos Fahri.

Aku tahu Fahri suka, tapi Fahri merasa ini berlebihan.

Aku siapin kue dan menaruh lilin di atasnya. Waktu kunyalain lilin Fahri mematikan lampu. Lalu ada Ipung, teman fahri lewat,
“loh tempatnya mati lampu ya…”
Lalu kami Cuma senyum-senyum

“Nggak Ini ada yang ulang tahun”

Jadilah Ipung turut gabung. Setelah berdoa Fahri potong kuenya…terus makan kue bersama deh… selamat ya-selamat ya…:)







Rendevouz



Buat M

Suatu waktu di musim panas bulan agustus, dia mencoba meringkas jarak berpuluh kilo itu dengan perjalanan penuh kerinduan. Berharap impian akan selesai terbalas oleh pertemuan yang damai. Perbincangan pun telah ia rangkai dan cukuplah lewat telepon. Mengabarkan kepada sang kekasih mimpi, untuk mengatur janji. Sang kekasih mimpi telah merestui karena tak sampai hati untuk membuat kecewa hati. Pertemuan yang singkat, itu telah menyejukkan jiwanya, seperti seteguk air putih yang turut serta menemani cengkrama.
Dia mulai merasa tak nyaman memandang kenyataan bahwa kekasih mimpinya tak berubah, tetap seperti dulu saat berpisah dua tahun silam. Kekasih mimpi tak sanggup membuat kebohongan untuk kebahagiaan palsu, dan ia tandai itu dengan mengatakan bahwa kekasih mimpi telah dikepung banyak kegiatan, sehingga hatimu terpanggil untuk lekas bergegas….pulang! Dalam hati kekasih mimpi, menangis karena telah melukai…dan tak rela memandang lakunya sendiri yang telah berlalu…maafkan aku, bisiknya…