Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan

Untuk Fantastic 4

Aku mengenangmu, saat kita tumbuh bersama dalam percakapan sambil lalu tak mengenal asal dan usia. Satu-satu dari kita pergi, begitulah ada pertemuan dan perpisahan. Sebuah hubungan klasik yang abadi. Tak ada orang yang benar-benar terus bersama. Mungkin kita terpisah oleh jarak atau kematian.

Hari ini seperti ada pengulangan.

Aku bahagia bersama kalian. Mungkin suatu hari akan datang yang lain dan entah akan diberi nama apa? Aku ini orang jauh, keluargaku hanya teman, sudah selayaknya berbuat baik dengan teman. Baiklah selamat jalan teman-temanku. Semoga bahagia selalu menyertai kalian di manapun berada. Seperti bahagia kita saat bersama.

Adalah jiwa-jiwa kita yang akan saling mengingat, saat kita tak lagi bertegur sapa dan bertatap muka.

Yoga Ketawa

Sabtu kemarin adalah weekend yang paling bahagia buatku. Aku ikut yoga ketawa, Aku tertawa hampir dua jam. Amazing banget deh. Aku datang terlambat karena mampir sarapan di warung Bubur Syarifah jalan Kaliurang, bubur favoritku untuk sarapan. Yoga ini dilakukan di Via-Via Café, jalan Prawirotaman.

Dua kali aku bertanya tukang becak untuk memastikan arah. Sampai di depan Café ketemu Ika Ayu. Dia teriak “Mbak tutik, sini loh parkirnya.” Rupanya dari tadi dia di belakangku. Dia manggil-manggil dan menahan tawa, karena aku bertanya tukang becak sampai dua kali.

Prawirotaman adalah kawasan ekspatriat di Jogja, banyak Guest House dan Hotel melati dengan pilihan beragam. Aku baru dua kali masuk daerah ini. Pertama bertemu teman dari Malaysia untuk urusan pekerjaan. Kedua adalah kemarin itu, ikut Yoga yang masih satu rangkaian acara International Women Days. Jadi mikir, aku dah hamper 10 tahun di Jogja, tapi baru masuk tempat ini dua kali, pliss deh. Nampaknya habis ini aku akan sering-sering ke daerah ini. Tadi ada email undangan untuk datang ke pembukaan Pameran Seni Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS, bertempat di Via-Via cafe juga.

Kembali ke Yoga ya, Yoga Ketawa ini di pimpin oleh instruktur dari Riau Namanya ibu Emmy Lianna Dewi. Dia adalah satu-satunya instruktur Yoga Ketawa dari Indonesia yang memegang certified Laughter Yoga School dari India. Dalam web nya Emmi menulis, Yoga Ketawa adalah sebuah konsep unik di mana setiap orang bisa tertawa tanpa alasan, tidak bergantung pada adanya peristiwa hal lucu yang terjadi di sekitar. Hanya tertawa dan kamu akan bahagia.



Yoga Ketawa adalah sebuah Yoga yang menggabungkan latihan pernapasan Yoga yang memungkinkan orang lebih banyak memasukkan oksigen yang masuk ke dalam tubuh dan membuat orang lebih enerjik, sehat, dan membersihkan tubuh dari racun berbahaya. Saat tertawa kita membuang karbondioksida dan otomatis oksigen masuk ke dalam tubuh kita.

Yoga ini dikembangkan oleh Dr Madan Kataria, seorang dokter dari Mumbai India yang memulai klub tawa pertama di taman pada 13 Maret 1995. Anggotanya cuma 5 orang. Saat ini ada 6.000 klub Yoga Ketawa di seluruh dunia.

Yoga Ketawa dilakukan di dalam kelompok atau klub karena peserta memerlukan teman untuk tertawa bersama sambil berinteraksi dan saling menatap mata. Dimulai dengan tepuk tangan, pernapasan, gerakan-gerakan khusus yang disertai ketawaria, serta relaksasi.

Dalam Yoga Ketawa, orang percaya bahwa ketawa itu 'menular’, jadi bila kita bertatap mata dan berinteraksi dengan orang yang sedang tertawa, maka kita akan ‘ketularan’ untuk tertawa juga. Jadi dalam kelompok, peserta saling menularkan gelak tawa.

Aku datang jam 9.30 pagi. Dari luar ruangan tampak terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak. Aduh seperti suara orang gila, batinku. Emang orang tertawa sendiri dengan keras mesti gila ya. Ngga juga kan, mereka tidak gila, mereka sedang melakukan Yoga. Yoga Ketawa.

Aku masuk ruangan, setelah meletakkan tas dan jacket. Aku bergabung, baru beberapa detik ternyata aku kelularan gila, maksudnya ikut ketawa ngakak. Padahal aku jarang tertawa keras.

Tiap selesai latihan tertawa, selalu diikuti yel- yel sambil tepuk tangan, very good…very good…yeah…gembira sekali!

Yoga ketawa meliputi tahapan-tahapan seperti ini, pengenalan gerakan dan ritme, pemanasan, teknik pernafasan, latihan tertawa dengan mengatur pernapasan, dan relaksasi. Emmy sangat energic, dia memberi instruksi dengan jelas dan semangat. Latihan-latihannya simple dan mengundang tawa.

“Tertawa adalah hal yang paling mudah dan murah untuk membuat seseorang merasa bahagia.” Kata Emmy.

Dia juga percaya, semakin banyak orang tertawa, maka dia akan merasa bahagia. Jika dalam satu kawasan ada kelompok Yoga ketawa, dia yakin dapat mengurangi kekerasan dan menciptakan perdamaian. Bagaimana orang mau marah, jika sebelumnya tertawa.

Emmy membuka diri untuk memberi pelatihan menjadi Leader Yoga Ketawa. Dia berpesan hanya untuk tujuan sosial. Jika kita sudah ahli, maka uang itu akan mendekati kita. Namun pertama-tama adalah untuk tujuan sosial. Good point, Mom! Aku bangga padamu.

Pulangnya, aku tertawa sepanjang jalan. Sampai menunda rencana pinjam film lucu. Hahahaha....huhuhuhu...!

Shakti!

This is a long time, I didn’t see this place. The Farmer get harvest already. This is a long time i didn't seat here...in backyard, peaceful place, in her home...
Just fortunately...I have workshop today....meet inspiration people, wonderful women around city. We share a lot of experienced, have big spirit and emotion, support each other to become real woman. Make strong through good and bad times. They call Shakti Workshop. It’s become a part of International Women Days ceremony.

I see two young man ride bike on the way between rice field. So exciting...

Can you separate about loving someone as a feeling and you as activist? loving is universe, give your love to everything you meet. And the same time we need to be loved. Can you heal your love just because you are activist? Just because this is unrespect love? We talk everything.

That’s 3 month ago i was sitting here, after long journey. I don’t find her again. She come home. She not been here anymore. I talk everything, like she been here...so close...

Hi...I miss you...I’m here now. Whitout your smoke. We talk about feeling, your feeling in the past. We have same case...we are happy ending.

Look! there is a girl from Amerika, her name is Nico. She join us. She wear yellow T-shirt, look charming, sweet and close to people. You will be interesting when join with us.


We introduce our self, in the first time with speciall gesture made by own. Very funny full of laugh. And than we share about phisical, emotional, fear, and freedom condition that we feel this day. We listen each other, just listen.

She said, “we live in patriarch world that sometimes repress our femininity, we never know it’s happened”. So...we just try to make it balance. in her note she said "Your heart is your guru, your body is your home, your life is your class." Hmm...I love this.

We doing meditation with slow music. Touching our body, her body, just to give peacefull. We share with our patner, sending positive energy. allot of hugs, smiles and cares.

You know, she always inspiring me. Give something new all the time.

Hi...dear, do you know? I love skinny jeans, flat shoes, and sneakers sometimes. I think thats my style now. Feel free...ones again no high heel...its painful...ha ha...but sometimes make me so sexy...ha ha...(kidding that just my feeling).

Do you remember? We ever go to Amplas before you go home. You bought pink sneakers shoes. Hmmm I didn't really like that shoes. The colour is too bright. But you like it...so I suggested you to buy and you feel happy.


Hmmm...I’m so sleepy now...Good night!

Sebuah kunjungan

Ada seekor kodok hitam yang kesepian, berjongkok di pot yang terletak disudut teras. Pot dengan tanaman hampir mati karena kekurangan air, daunnya menjuntai kering seperti nenek yang keriput dimakan usia. Pot-pot tanaman lain diletakkan diatas tempat duduk dari semen, berjejer di kanan dan kiri. Di sekeliling rumah adalah hamparan sawah yang hijau. Tanaman padi yang mulai hamil menyembulkan bulir-bulir padi muda yang hijau. Disela-sela tanaman padi ada capung yang bertengger, bergelayutan tertiup angin, si capung bermain ayunan nikmat sekali. Seekor burung terbang rendah, sesekali hinggap mencium dahan padi. Suara gemercik air dari kali kecil di depan rumah membuat harmoni yang menenangkan. Bau sawah, tanah basah, dan suara air yang sempurna. Lalu Tiba-tiba aku membayangkan untuk olahraga yoga. Sungguh sempurna tempat ini diciptakan, rasanya aku ingin tinggal lebih lama.

“Kak, aku sudah sampai ditempatmu.” Aku menyapa seseorang di telepon, aku mendengar latar belakang suara yang ribut.
“Tiga puluh menit ya say, Aku lagi dijalan.”

Hmmm aku memang datang terlalu cepat, bahkan aku meninggalkan kantor lebih awal, hanya ingin cepat-cepat menemuinya. Baiklah, aku merasa rileks. Aku menunggunya namun aku merasa nyaman sekali. Memandang sawah, memandang kodok yang kesepian diatas pot. Dan sekali lagi gemercik air kali, sungguh tak tertahankan...!

Aku membayangkan, bagaimana jika ini malam hari ya? Pasti gelap dan tenang. Pasti menakutkan jika tinggal sendirian. Tapi tempat ini sungguh nyaman.
Ingatanku terlempar ke kampung halaman, sudah berapa tahun aku tak mengunjungi sawahku. Hutan itu. Pohon-pohon pisang, yang selalu berbuah. Namun kita tak pernah menikmatinya, Ayah menanamnya hanya agar orang lain mengambilnya, anggap saja beramal, tanpa kita tau. Begitu selalu dikatakan.

Perasaan rindu rumah menyergapku, ya alam desa terasa kental disini. Semua berjalan pelan dan bersahaja. Semua berjalan tenang tanpa hiruk pikuk dan ambisi. Semuanya telah disediakan oleh alam. Tanaman-tanaman itu telah menyiapakn dirinya, merelakan tubuhnya untuk kita. Jika mereka memiliki perasaan, maka perasaannya adalah semacam unconditionally love, Cinta tak bersyarat. Ada pohon pisang yang berbuah, kita tau dia berbuah hanya sekali dan saat kita mengambil buahnya otomatis kita pun akan menebang batang pohonnya. Pohon yang rela dilukai, dan menyerahkan buahnya untuk kita nikmati. Bukankah itu bentuk dari pengorbanan. Meskipun dari sebuah pohon pisang.
Di kejauhan sawah dengan tanaman padi yang sudah menguning. Dengan bulir-bulir padi yang berisi dan kian merunduk. Orang-orang tua bilang, jadilah kamu seperti batang padi semakin berilmu, semakin berisi, maka sebaiknya semakin rendah hati.

Panjangnya aliran kali itu, berapapun pajangnya akan bermuara ke laut. Berapapun jauhnya sebuah perjalanan, suatu saat kita akan merindukan rumah. Rumah yang menenangkan. Yang membuatmu slalu rindu ingin pulang. Alam telah mengajarkan kita banyak hal, tidakkah semua itu membuat kita berfikir?

Berbahagialah mereka yang mencintai alam, dekat dengan alam. Mencintai bunga dalam pot, menyiraminya, lalu dia berbunga. Saat mereka berbunga, bunga itu adalah wujud dari rasa terimakasihnya, karena kita telah merawatnya. Mereka rela kita petik, atau kita pandangi. Nikmati aku, ambilah semaumu.
Alam memberikan aura positif tanpa kita memintanya, tanpa kita menyadari kita telah menerimanya.

“Aku, otw pulang say, maaf telat.” Ada sms masuk.
Aku berfikir, kenapa pertemuan ini menjadi tak penting lagi mengingat halamannya, sawah, dan air kali itu telah membuatku teduh sama seperti dirinya. Apakah aku harus pulang? Namun hatiku menahanku, aku harus menemuinya. Dia yang inspiratif, hangat, dan powerfull. Beruntunglah aku yang mengenalnya.

Kami mengobrol banyak sekali, aku merasa senang sekali. Karena dia adalah pendengar yang baik. Banyak ucapan-ucapan yang melampaui pikiranku. Tentang pengorbanan, tentang penerimaan, lalu tentang sakit yang membuat kita bahagia. Aku selalu mengaguminya, seperti dulu saat kami sering ketemu dalam jangka waktu beberapa bulan.
Ada kucing kecil yang bermain-main dengan kami. Lucu sekali. “Kamu tau kucing ini mungkin ngga akan sampai sini, jika bule itu tak memungutnya di tong sampah. Aduh kasihan kamu si wiki, sudah berpisah dengan emakmu lalu di buang di tong sampah.”
Kucing kecil itu diberi nama Wiki.

Obrolan mengalir pelan, sambil membantunya membersihkan lantai ruangan. Kemarin jogja ada hujan badai, genteng-genteng pada runtuh, tanaman ambruk, dan suasana mengerikan. Dia sendiri jadi korban, laptop kesayangannya terendam air. Otomatis dia kehilangan semua data. Kejadiannya adalah saat hujan badai itu dia tidur. Dia tak sedih tapi malah hujan-hujanan mandi keramas, dasar! Kejadian itu memancing teman-teman bule-nya untuk ikut hujan-hujanan.

“Kamu tahu, kalau aku nggak gila, aku ngga mungkin bisa bertahan menghadapi pekerjaanku ini. Makanya seminggu sekali aku harus nongkrong.” Dia tersenyum.
Aku selalu terkesan mendengar ceritanya, kisah hidupnya.Rasanya ingin selalu mendekatinya saat-saat seperti ini. Aku ingin tinggal di rumah itu, namun sayang dia mesti ke Bali sebulan kedepan.

Trimakasih Kak, telah memberiku banyak hal, teruslah maju dan raih mimpi-mimpimu. Aku percaya setelah kesulitan ada kemudahan. Aku percaya kita bisa, dan aku percaya ada kekuatan besar yang menggerakkan dan mengijinkan semua ini terjadi. Seperti kita mempercayai ada Tuhan yag hidup di hati kita masing-masing.

FKY dan Mati Lampu

Semalam aku pergi nonton Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Tahun ini FKY diadakan dari tanggal 7 juni sampai 7 Juli. Aku janjian sama teman-teman, namun saat tiba di sana tak semua bisa datang. Acara malam mingguan bareng terasa kurang ramai.

Aku belum sempat masuk ke arena Festifal ketika tiba-tiba mati lampu. Hmmm...Malam ini kurang beruntung batinku. Aku dan teman-teman memilih duduk-duduk di pinggir jalan sambil melihat lalu lalang kemacetan jalan. Kami duduk di depan Gedung Agung dan menonton atraksi orang makan api. Aku melihat atributnya bertuliskan Reog Ponorogo, meskipun sederhana dan apa adanya.Tidak seperti Kesenian Reog yang heboh, dengan warog yang besar.

Pemainnya ada orang dewasa dan anak-anak. Mereka belum ahli benar, namun kesalahan-kesalahan itu membuat permainan jadi terkesan lucu. Misal, saat melempar bola api ke mulut, ternyata mereka tidak pas menangkapnya (memakai mulut). Waktu salah seorang memasukkan badan ke tong Kayu, malah teriak sakit...sakit, sambil mendorong salah satu temannya.

Seoarang perempuan setengah baya mengedarkan topi bambu untuk menerima uang sukarela.

Melihat dari penampilannya, seperti kesenian jalanan. Mereka berpindah setiap saat, berpindah mencari keramaian. Musik pengiringnya hampir sama dengan penari jalanan yang sering aku temui di perempatan Kentungan. Memakai Gong yang dipukul berirama seperti iringan musik Jathilan.

Malam merambat pelan,mengingat suasana Jogja yang akhir-akhir ini kurang aman karena ada kejadian pembacokan di jalan raya, jam setengah sembilan aku memutuskan pulang.

Kami tak bisa melihat festifal, Malam minggu sedikit berwarna.

Mendadak jadi Koki

Malam ini aku sulit tidur, daripada gulag gulig di kasur ngga produktif akhirnya aku memutuskan untuk menulis blog. Kemarin sudah janji buat menulis kejadian sehari kemarin. Sebenarnya ngga spesial, tapi kejadiannya serba kebetulan.

Aku biasa bangun waktu subuh, untuk sholat jamaah bareng teman-teman. Habis itu biasanya tidur lagi (ini kebiasaanku yang buruk dan susah untuk kuhilangkan, mungkin usahaku yang kurang keras) selama dua jam. Setelah itu aku bangun lagi cuci muka, cuci baju, lalu sarapan, baru Mandi. Aku juga punya kebiasaan ngga baik yaitu sarapan sebelum mandi. Alasanku biar bersih sekalian, kalau mandi baru sarapan kan keringatan tuh...jadi merasa kotor lagi. Mungkin ini faktor kebiasaan juga, merasa panas setelah makan.

So habis itu aku nyalain laptop, cek email, buka facebook dan lainnya. Tiba-tiba Hp-ku berbunyi. “halo siapa nih?” karena aku tidak mengenali nomer yang tertera di layar HP. Yang ternyata Chandra teman kantor. “Chandra mba, hei katanya kita mau masak-masak nih.Gue tunggu ya dirumah, kita masak rame-rame.” Balas Chandra.
“hmm,ya deh.” Jawabku agak ragu, aku masih pengen nge-net.
“Oke aku tunggu ya, sekarang aku mandi dulu.”
“Oke,” jawabku.

Setengah jam kemudian aku melaju ke rumah Chandra. Hanya sepuluh menit, aku sudah tiba dirumahnya. Dia baru aja mandi. Tanpa ba bi bu, aku langsung menuju dapurnya. Aku memang beberapa kali mengantarnya pulang, tapi baru kali itu aku masuk kerumahnya. Hmm dapurnya asik. Di lemari dapur banyak bahan makanan instant, minuman instant, dan aneka bumbu dapur. Lengkap juga.

“Mau masak apa kita Chan?”
“Terserah mba Tuti aja.”
“Ehm spageti aja yo, ini bahannya sudah ada.” Pikirku biar praktis nggak usah keluar-keluar karena cuaca yogya lagi panas.
“Boleh, atau kita masak ikan aja mbak, nanti masak bareng Didin dan bang Alam.” (Didin dan Bang alam adalah teman kantor juga)
“Boleh-boleh, tapi sudah siang gini mau beli ikan dimana? Pasar dah mau tutup?”
“Carefour aja, atau kalau mau kita ke Fish Market”.
“Fish Market?” jawabku ragu, setahuku pasar ikan itu sering tutup

Begitulah akhirnya kita berangkat ke fish market, namun sebelumnya kita ke pasar Colombo untuk beli bumbu. Lalu ke fish market. Setelah hampir 2 jam dijalanan kita sampai juga. Karena naik mobil, kami memilih jalan memutar, tapi ternyata jalanan agak macet, jadi waktu habis di jalan. Jam 12 siang lebih baru sampai fish market. Dan dugaanku benar, disana suasanannya sepi, kami bertemu beberapa orang. Dan kata mbak penjaga toko, fish marketnya baru akan buka bulan depan. Wah cape deh...

Candra mengajak ke pantai Depok, ya sudahlah kepalang tanggung. Di pantai Depok banyak penjual ikan. Itu berarti butuh dua jam lagi agar bisa sampai rumah dan memasak. Sampai Depok kita langsung ke pasar ikan, aku langsung menuju ke penjual ikan tempat aku beli mingu lalu. Setelah tawar-menawar dan pilih ini itu, akhirnya kita membawa pulang ikan Cakalang, Kakap merah, udang dan cumi. Belanjanya kilat, bahkan aku ngga sempat mampir ke pantai. Padahal pantai adalah tempat favoritku ketika jalan-jalan. Aku hanya melihat sekilas dari kejauhan. Lalu kita pulang.
Sebelum sampai rumah, mampir kosku untuk mengambil trasi. Trasi istimewa yang jauh-jauh kubawa dari rumah waktu pulang kampung. Berharap bisa bikin sambal trasi yang enak.

Jam 2 sampai rumah, aku sholat dzuhur dulu baru memasak. Rencananya kita akan memasak Ikan Cakalang goreng, Gule Ikan cakalang, Cumi Saos Tiram, Udang Goreng dan sambal. Banyak juga ya...

Kita sudah menghubungi teman-teman untuk memasak tapi ternyata ngga datang-datang. Akhirnya kita masak Cuma berdua, dari mulai bersihin isi perut ikan, membersihkan cumi, menyiangi udang, buat bumbu, dan sebagainya sampai berujud makanan siap santap. Wahh hampir empat jam kita masak. Maklum kokinya jadi-jadian. Jadi mungkin terlihat lama.
This is it...Masakan seafood ala chef Tuti dan Chandra...


Menjelang magrib aku pulang dulu, mengantar ikan buat teman-teman kos. Hari itu aku piket menyediakan makan malam. Lalu mandi dan sholat. Waktu rebahan badan capek banget. Serasa melayang-layang, mungkin lebai ya. Hmmm tapi karena sudah janji maka aku balik lagi kerumah Chandra untuk makan bareng, beberapa teman kantor janji akan datang malam itu.

Akhirnya kita makan bersama, Bang Alam dan Bang Didin bawa kerupuk dan Coca cola. Jam delapan aku pamit pulang karena ngantuk dan capek, padahal malam itu malam minggu. Teman-teman meledekku karena masih sore tapi sudah ngantuk. Tapi peduli amat, badanku emang minta di istirahatkan.

Thanks Chan, hari ini kita sudah jadi Koki.

Makan Ikan di Pantai Depok

Pantai Depok adalah salah satu pantai di pesisir selatan Yogyakarta yang memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Untuk pertama kalinya aku mengunjunginya setelah sepuluh tahun bermukim di Yogya. Sebuah kunjungan untuk merayakan ulang tahun dan wisuda seorang kawan dekat, seorang adik tepatnya. Namanya Hamidah. Kami berangkat ber-lima belas gabungan dari teman kos dan teman kampus.

Kami tiba di pantai tepat tengah hari saat perahu-perahu merapat, membawa ikan hasil tangkapan hari itu. Bau ikan amis dan limbah ikan busuk segera menyergap. Keramaian juga terjadi di pasar ikan, banyak pembeli yang kebanyakan adalah wisatawan melakukan tawar-menawar. Hari ini kebetulan hari minggu, pasar jad penuh.


Wisata kuliner seafood adalah salah satu daya tarik Pantai depok. Ditempat ini aneka jenis ikan ditawarkan dengan harga lumayan murah. Tentu, jika kita membandingkan harganya dengan pasar swalayan atau pasar tradisional di pusat kota Yogya. Misalnya satu kilo ikan cakalang hanya dijual dengan harga 13 ribu rupiah. Cumi segar hanya 25 ribu rupiah per kilo, sementara udang diharagai 30 ribu rupiah. Aku yang memang suka makan seafood jadi berfikir untuk datang lagi suatu saat nanti.


Di pasar ikan ini para pengolah ikan sudah antri menawarkan jasa untuk memasakkan ikan yang kita beli. Untuk ikan bakar atau goreng tarifnya 5 ribu per kilo, kemudian cumi dan udang masak bumbu bertarif 10 ribu per kilo. Untuk teman makan ikan kita pasti butuh nasi, lalapan dan sambal. Nah untuk yang ini per paket diharagi 15 ribu rupiah. Satu paket untuk 5 orang. Para pengolah ikan itu menjamin di tempatnyalah yang paling murah dan enak. Pastinya.

Hari itu kami mendapatkan tempat makan yang masih sepi, we are the first one who reserved this place. Mbak pengolah ikan mengatakan masakan akan siap santap nggak lebih dari satu jam. Mulanya kami bermaksud menunggu sambil jalan-jalan di pantai tapi karena suasana siang itu panas sekali, akhirnya kita menunggu saja. Es teh menjadi pilihan untuk mengusir haus. Pengen sekali minum es teh, tapi karena masih dalam tahap penyembuhan dari serangan influenza maka aku memilih air kelapa muda. Hmm sungguh cuaca yang bikin tidak nyaman, ditengah suhu tubuh yang panas pula.



Satu jam kemudian masakan yang kami pesan pun datang. Ada ikan Cakalang bakar, Cumi saos tiram, Cumi goreng tepung dan Cdang asam manis. Tak lupa lalapan kubis dan daun kemangi lengkap dengan aneka sambal antara lain, sambal kecap, sambal tomat, dan sambal terasi. Mak nyuus.

Selanjutnnya kami jalan-jalan di pantai. Foto-foto dan bermain ombak.

Fantastic Four

Dikantorku ada empat cewek yang sering jalan bareng. Dari ngerumpi, makan bareng, sampai hang out. Meski usia terpaut jauh tapi saat ngobrol seperti tak ada beda. Pokoknya gila. Empat orang itu adalah:


Aku (pake jilbab kuning), Maya (Jilbab Pink), Deni (Jilbab hitam), dan KiKi (you know lah)


Sukiratnasari, kita biasa panggil Kiki, kadang dipanggil laki-laki jadi-jadian karena dari penampilan dan behaviour mirip laki-laki. Deberapa kali dia dipanggil dengan sebutan mas sama orang asing, anehnya dia menoleh juga. He..he...mungkin sudah takdir.Teori gender yang mempelajari pensifatan laki-laki dan perempuan akibat kontruksi sosial jadi mentah jika berhadapan dengannya. Oya meski terlihat single, dan saat ini mengaku jomblo namun dia sudah bersuami dan punya anak satu. Tipenya pekerja lapangan, kalo ada advokasi sampai malam dia pasti turut serta. Pokoknya Public Defender sejati deh...dia malah mencari pekerjaan yang kalo bisa keluar malam...dan tentu saja keluar rumah. Dia mengaku di kantor jadi juragan kasus Pelanggaran Hak-Hak Sipil dan Politik. Preman, Satpol PP, Polisi pasti dibabat habis apalagi pelaku kekerasan terhadap perempuan hmmm bakal dibuat klepek-klepek sama dia...

Deni Wahyuningsih, kita memanggilnya Den...Den... dia pasti menoleh, apalagi ditambah Den Ayu...girangnya bukan main. Gadis Cangkringan ini anak juragan sapi. Tinggal di lereng Merapi yang banyak wismanya, makanya jika di kantor butuh penginapan dan wisma dialah orang yang tepat untuk menangani. Menurut dia, dia terbiasa bangun jam lima padahal disana kan dingin banget. Kadang aku tidak percaya, tapi buat apa dipertanyakan? Biar itu jadi urusan dia sama Allah. Deni terlihat mungil dan manis, makanya banyak yang suka. Tapi belakangan mengaku sudah punya tambatan hati. Namanya....Aduh kasih tau nggak ya?
Deni, bercita-cita jadi advokat, namun belakangan ortunya ngga setuju. Dia pengin sekali jadi advokat terkenal, handal, penyayang sesama...tanpa pandang bulu...tapi dia juga bisa misuh (marah) pada Hakim yang tidak adil dan membuat pak Tukijo dipenjara. Pak tukijo adalah aktivis petani lahan pasir yang dikriminalkan.

Darmayanti, maya....dengan berteriak, itu berarti kita memanggilnya dan dia ada di ruangan lain. May...may...berarti dia ada disampingku. Hmmm dari nada bicara dia terlihat cool dan susah di dekati, tapi jangan salah kalau kita sudah dekat dia adalah sosok perempuan yang lembut dan penyayang. Dia juga sangat perhatian. Apalagi sama soulmatenya (Ayu). Kadang dia pencemburu gara-gara sakit dan tidak ku sms. Dia rajin masak, dan pernah mau ikut lomba kreasi Indomie. Dia punya cita-cita mulia sebagai pejuang HAM. Liat aja bacaannya buku yang ga lazim dibaca orang kalo lagi males diajak diskusi jangan dekat-dekat dia deh...bisa digigit ntar...Dan aku sudah mulai melihat sepak terjangnya, waktu aksi, diskusi dan lainnya...

Astutik, Aku sendiri, agak canggung juga nih menceritakan diri sendiri. Aku yang paling dewasa eh... maksudnya paling tua diantara mereka he...he.... Aku agak pemalu diawal-awal. Tapi kalo sudah lama kenal jadi malu-maluin. Backgroundku ekonomi, kerja dengan orang-orang hukum, tapi bermimpi jadi designer,....he...ngga nyambung deh...mungkin karena ketidaknyambungan itulah aku ada. He...he...lebay.com

Itulah sekilas cerita tentang teman-temanku.
Suatu hari, kita merasa ribet jika mesti memanggil nama satu-satu. Kalo menurut teori efektifitas jadi ngga efektif. Makanya ada yang usul supaya kita mencari nama yang cocok dengan figur-figur diatas.

Usulan nama:
Kelompok manis manja: terilhami grup dangdut tahun 90-an yang personilnya ada Ine Cyintia dan kawan-kawan. Namun ngga jadi dipake, alasanya norak bangeeeet..

Trio macan: salah satu trio dangdut yang aksi panggungnya bikin pusing kepala. Dan Oh no...membayangkan saja tidak ingin. Jelas nama ini tidak cocok, dari segi kuantitas trio berarti 3, sementara kita ada empat orang. Dari segi kualitas, figur trio ini nggaaak banget deh...

Lalu munculah nama-nama berikut

Gang cabullerr...

Empat Bidadari...

Kelompok ijo lumut, jomblo dan imut-imut...

Akhirnya ketemu satu nama yang cukup mengilhami ketangguhan, semangat, dan juga perjuangan...

Nama itu adalah Fantastic Four. Terilhami oleh film fantastic Four, Cuma kalau di film tokohnya satu cewek dan tiga cowok, tapi kalau yang ini personelnya tiga cewek dan satu cowok. Siapakah cowok itu???

Tamu

Hujan gerimis di siang hari, ada orang yang menghabiskan waktu senggangnya hanya untuk tidur...apa yang kamu bayangkan saat kamu mengunjungi seorang kawan lama. Normalnya, pasti diisi dengan bincang-bincang lama, sampai kamu lupa waktu.
Anehnya, temanku ini malah tidur, dan aku seperti penjaganya...hi..hi...datang untuk numpang tidur...sambil sms dan telpon....emang ak ini siapa? Aku jadi tersanjung, jika kamarku ini emang kamar yang paling nyaman, yang pernah ia temui sebulan terakhir...lebai.com. Yang mengundang untuk ditiduri...
Well apapun bentuk kunjungan, aku selalu merasa senang. Karena tidak merasa sepi. Hari-hari jadi berwarna. Ada sesuatu yang kita kerjakan untuk seorang teman, untuk membuatnya senang....well come, please come in...