Kantor

Dia mencium bau apek dari tumpukan kertas yang berusia puluhan tahun. Udara lembab yang khas menyergap saat dia membuka pintu itu. Seperti museum penyimpanan dokumen kuno, dan dua atau tiga kali dia mengingat pertemuan pertama sembilan tahun lalu. Saat dia menginjakkan kaki di kantor itu hanya untuk mengantarkan surat undangan. Ingatan yang muncul selanjutnya adalah, sebuah kesan yang aneh tentang kantor dengan bangunan tua, sedikit karyawan, lalu seorang perempuan yang dia sangka seorang front office memainkan game solitare. Dia sempat mengumpat dalam hati, “malas sekali ya”. Setelah berterimakasih dia buru-buru pulang dengan menyimpan kenangan tentang kantor yang sepi. Dua tahun setelahnya dengan cara kebetulan dia telah menjadi bagiannya.

Sebuah kesadaran yang meruntuhkan pandangan tentang wujud sebuah kantor yang semula diyakini harusnya mirip bangunan gedung-gedung pemerintahan atau perbankan bukan sebuah rumah tua. kenangannya melompat-lompat, hingga pandangan-pandangan tidak penting ini juga mengingatkan kenapa dia tidak memilih sebuah SMA sama dengan pilihan teman karibnya, teman berzodiak pisces yang paling mengerti dirinya -meskipun dia sama sekali tidak percaya ramalan bintang-, hanya alasan takut menyeberang jalan raya yang padat di jalur pantura. Hanya kenangan sebuah jalan yang lebar dan lalu lintas yang berjalan ganas dan pertanyaan bagaimana ia akan menyeberanginya tiap hari? Dia memutuskan untuk tidak daftar ulang. Lalu memilih sekolah dengan standar persyaratan hampir sama. Namun di situlah perubahan di mulai, dia mengurangi jalan-jalan dan nonton pertunjukan musik. Di kemudian hari dia belajar banyak tentang substansi.

Tiap hari udara panas bercampur desing kipas angin akrab membelai-belai udara dalam ruangan-ruangan. Namun dia memiliki ruangan khusus yang tenang dan sangat privat. Bahkan menjadi pelarian banyak temannya karena dianggap paling sejuk dan bebas dari dering telepon. Dari ruangan itu sayup-sayup dia mendengar banyak cerita. Tentang tangisan seorang Ibu korban KDRT. Seorang laki-laki bersuara lantang karena kena tipu hutang-piutang. Atau sekelompok orang dengan wajah kesal karena mengalami penggusuran. Begitulah tiap hari dia menemukan wajah-wajah bermasalah. Tiap hari dia banyak mendengar pernyataan yang sama, “Saya minta dibantu.”

Tiap kedatangan membawa aroma yang berbeda. Dia menghapal banyak nama hanya dari suara langkah kaki karena begitu dekatnya sebuah hubungan pertemanan. Dia lebih sering diam dan mendengarkan, dia bukan tipe banyak bicara, karena itu teman-temannya diam saat dia mulai bicara dalam sebuah rapat. Dia menduga karena suaranya terlalu pelan atau apa yang dibicarakan memang penting, namun tanpa berniat sombong dia memilih alasan pertama. Sekali bicara dia bisa banyak dan lama, seperti sesuatu yang dia kumpulkan beberapa hari dan menunggu-nunggu waktu yang tepat. Saat dia diam, dia hanya untuk lebih banyak menimbang-nimbang agar dapat memahami dan mengerti. Dia tidak suka meributkan hal-hal kecil.

Sekali waktu dia mendapati seorang teman bisa sangat emosi mengetahui sebuah keputusan yang tidak adil. Itu beberapa kali terjadi, mendampingi orang miskin yang tak punya kekuatan, sering dikalahkan tak peduli posisi benar dan salah. Kekuasaan dan uang masih dominan bicara. Namun suatu hari dia turut bahagia mendapati teman-temannya pulang membawa cabai, melon, juga sayur-sayuran pemberian petani lahan pasir yang mereka bantu. Pemberian sebagai wujud dari ucapan terimakasih.
Seseorang yang datang dengan keringat membanjir namun terus berceloteh berapi-api tentang masa aksi yang terlibat bentrokan. Tentang upaya dialog yang berjalan alot yang berakhir penolakan memasuki sebuah gedung pemerintahan. Atau tentang pengalaman lucu ketika menyanyikan lagu-lagu atau yel-yel ejekan yang ditujukan pada penguasa yang telah melupakan kualitas hidup warganya.

Ada perasaan jemu dan nyaman menghinggapinya silih berganti dengan ritme yang sama saat dia pun merasa damai. Kilat-kilat mimpi yang memanggil dalam kesendirian. Lalu keberanian yang datang dalam ukuran tepat saat ia menyusuri jalanan kota yang panas. Seperti kerinduan yang muncul tiba-tiba bersama deru angin yang membuatnya menggigil.
Dia berhitung namun juga membebaskan, dia berusaha namun juga berserah diri, hanya satu yang dia pegang yaitu keyakinan dengan kadar yang sama. Dia tak pernah heran kenapa bisa melaluinya. Dia hanya percaya Tuhan memilihnya untuk melalui jalan-jalan yang telah lewat atau mungkin yang akan datang.

Suatu sore dalam riuh rendah obrolan tiba-tiba seorang nenek penjaga membawakan pisang goreng. Mereka lahap menyambut makanan itu semua ikut berebut mendapat jatah. Disebuah ruangan dengan berisik desing kipas angin makanan itu kandas dan obrolan berjalan hingga petang, suara adzan akhirnya mengingatkannya untuk pulang ke rumah.

Hanya dari membaca tumpukan berkas bau apek itu dia dapat membayangkan bagaimana seseorang bercerita waktu itu, bagaimana ekspresinya? Bagaimana struktur perasaannya? Bahkan dari tanggal yang tertera, dia sendiri mencocokkan waktu itu dia sedang mengalami apa? Tanpa bermaksud untuk membuat analisa psikologis, dia dapat menjelajahi kisah-kisah dengan ragam upaya dan keputusan yang benar-benar nyata. Tak peduli apa wujud fisiknya, organis macam ini masih sangat dibutuhkan. Mereka terus berjalan karena semangat juga panggilan nurani.

Tidak ada komentar: