Berceritalah Pagi

Berceritalah pagi kepadaku, tentang nama dan warna, tentang waktu dan kenangan. Dia datang seperti tarikan nafas, begitu saja seperti rutinitas tanpa perintah dan permintaan.
Tentang jatuhnya daun pohon jambu di musim kemarau yang gugur.
Tentang Agustus yang menggigil di malam hari, meninggalkan perdebatan tak kunjung damai dari hutang-hutang kewajiban yang menuntut usai.
Tentang sorot mata ceria seorang gadis yang duduk di kursi roda dan mengajakku bercanda di suatu pagi, di sanalah aku bertemu Tuhan.
Tentang senyuman seorang nenek renta yang berhenti berjalan dan menawariku membeli sendok kayu sore itu, di sanalah aku bertemu kasih Tuhan
Hari-hari semakin cepat bagi mereka yang dewasa,
Sementara anak-anak ramadhan tak sabar menunggu lebaran
Lalu tentang impian-impian yang mengajaknya berlari terus dan terus.
Ini tidak perlu bukan? Semua yang sulit di cerna ini lahir dari perasaan.

Kantor

Dia mencium bau apek dari tumpukan kertas yang berusia puluhan tahun. Udara lembab yang khas menyergap saat dia membuka pintu itu. Seperti museum penyimpanan dokumen kuno, dan dua atau tiga kali dia mengingat pertemuan pertama sembilan tahun lalu. Saat dia menginjakkan kaki di kantor itu hanya untuk mengantarkan surat undangan. Ingatan yang muncul selanjutnya adalah, sebuah kesan yang aneh tentang kantor dengan bangunan tua, sedikit karyawan, lalu seorang perempuan yang dia sangka seorang front office memainkan game solitare. Dia sempat mengumpat dalam hati, “malas sekali ya”. Setelah berterimakasih dia buru-buru pulang dengan menyimpan kenangan tentang kantor yang sepi. Dua tahun setelahnya dengan cara kebetulan dia telah menjadi bagiannya.

Sebuah kesadaran yang meruntuhkan pandangan tentang wujud sebuah kantor yang semula diyakini harusnya mirip bangunan gedung-gedung pemerintahan atau perbankan bukan sebuah rumah tua. kenangannya melompat-lompat, hingga pandangan-pandangan tidak penting ini juga mengingatkan kenapa dia tidak memilih sebuah SMA sama dengan pilihan teman karibnya, teman berzodiak pisces yang paling mengerti dirinya -meskipun dia sama sekali tidak percaya ramalan bintang-, hanya alasan takut menyeberang jalan raya yang padat di jalur pantura. Hanya kenangan sebuah jalan yang lebar dan lalu lintas yang berjalan ganas dan pertanyaan bagaimana ia akan menyeberanginya tiap hari? Dia memutuskan untuk tidak daftar ulang. Lalu memilih sekolah dengan standar persyaratan hampir sama. Namun di situlah perubahan di mulai, dia mengurangi jalan-jalan dan nonton pertunjukan musik. Di kemudian hari dia belajar banyak tentang substansi.

Tiap hari udara panas bercampur desing kipas angin akrab membelai-belai udara dalam ruangan-ruangan. Namun dia memiliki ruangan khusus yang tenang dan sangat privat. Bahkan menjadi pelarian banyak temannya karena dianggap paling sejuk dan bebas dari dering telepon. Dari ruangan itu sayup-sayup dia mendengar banyak cerita. Tentang tangisan seorang Ibu korban KDRT. Seorang laki-laki bersuara lantang karena kena tipu hutang-piutang. Atau sekelompok orang dengan wajah kesal karena mengalami penggusuran. Begitulah tiap hari dia menemukan wajah-wajah bermasalah. Tiap hari dia banyak mendengar pernyataan yang sama, “Saya minta dibantu.”

Tiap kedatangan membawa aroma yang berbeda. Dia menghapal banyak nama hanya dari suara langkah kaki karena begitu dekatnya sebuah hubungan pertemanan. Dia lebih sering diam dan mendengarkan, dia bukan tipe banyak bicara, karena itu teman-temannya diam saat dia mulai bicara dalam sebuah rapat. Dia menduga karena suaranya terlalu pelan atau apa yang dibicarakan memang penting, namun tanpa berniat sombong dia memilih alasan pertama. Sekali bicara dia bisa banyak dan lama, seperti sesuatu yang dia kumpulkan beberapa hari dan menunggu-nunggu waktu yang tepat. Saat dia diam, dia hanya untuk lebih banyak menimbang-nimbang agar dapat memahami dan mengerti. Dia tidak suka meributkan hal-hal kecil.

Sekali waktu dia mendapati seorang teman bisa sangat emosi mengetahui sebuah keputusan yang tidak adil. Itu beberapa kali terjadi, mendampingi orang miskin yang tak punya kekuatan, sering dikalahkan tak peduli posisi benar dan salah. Kekuasaan dan uang masih dominan bicara. Namun suatu hari dia turut bahagia mendapati teman-temannya pulang membawa cabai, melon, juga sayur-sayuran pemberian petani lahan pasir yang mereka bantu. Pemberian sebagai wujud dari ucapan terimakasih.
Seseorang yang datang dengan keringat membanjir namun terus berceloteh berapi-api tentang masa aksi yang terlibat bentrokan. Tentang upaya dialog yang berjalan alot yang berakhir penolakan memasuki sebuah gedung pemerintahan. Atau tentang pengalaman lucu ketika menyanyikan lagu-lagu atau yel-yel ejekan yang ditujukan pada penguasa yang telah melupakan kualitas hidup warganya.

Ada perasaan jemu dan nyaman menghinggapinya silih berganti dengan ritme yang sama saat dia pun merasa damai. Kilat-kilat mimpi yang memanggil dalam kesendirian. Lalu keberanian yang datang dalam ukuran tepat saat ia menyusuri jalanan kota yang panas. Seperti kerinduan yang muncul tiba-tiba bersama deru angin yang membuatnya menggigil.
Dia berhitung namun juga membebaskan, dia berusaha namun juga berserah diri, hanya satu yang dia pegang yaitu keyakinan dengan kadar yang sama. Dia tak pernah heran kenapa bisa melaluinya. Dia hanya percaya Tuhan memilihnya untuk melalui jalan-jalan yang telah lewat atau mungkin yang akan datang.

Suatu sore dalam riuh rendah obrolan tiba-tiba seorang nenek penjaga membawakan pisang goreng. Mereka lahap menyambut makanan itu semua ikut berebut mendapat jatah. Disebuah ruangan dengan berisik desing kipas angin makanan itu kandas dan obrolan berjalan hingga petang, suara adzan akhirnya mengingatkannya untuk pulang ke rumah.

Hanya dari membaca tumpukan berkas bau apek itu dia dapat membayangkan bagaimana seseorang bercerita waktu itu, bagaimana ekspresinya? Bagaimana struktur perasaannya? Bahkan dari tanggal yang tertera, dia sendiri mencocokkan waktu itu dia sedang mengalami apa? Tanpa bermaksud untuk membuat analisa psikologis, dia dapat menjelajahi kisah-kisah dengan ragam upaya dan keputusan yang benar-benar nyata. Tak peduli apa wujud fisiknya, organis macam ini masih sangat dibutuhkan. Mereka terus berjalan karena semangat juga panggilan nurani.

Just Sweet Quotes

B: Some say the world will end in fire. Some say in ice. But from what I've tasted of desire, I hold with those that favor fire. But if I had to perish twice...I think I know enough of hate to say that for destruction ice is also grave, and lots of ice.
E: Marry me.
B: Change me.
E: Okay I will if you marry me. It's called a compromise.
B: It's just called coercion.
B: Marriage is just a piece of paper.
E: Where I'm from it's the way one says "I love you".
B: Well, where I come from at my age, it's the way one say's "I just got knocked up".
E: So you're worried about what people will think.
--------------------
B: Why are you so against me becoming like you?
E: I told you.
B: Be honest with me. There's more.
E: I know the consequences of this choice you're making. I've lived through it, and to let you suffer that...You believe I have a soul and I don't, but to risk yours just for the sake of never having to lose you is the most selfish thing I'll ever do.
B: I thought that you were afraid that I'd feel different and like, I wouldn't be warm. I wouldn't smell the same.
E: You'll always be mine, just less fragile.

----------------
E: I just don't know why you're doing this.
B: What?
E: No, you're trying to make everyone else happy. But you're already giving away too much.
B: You're wrong. This wasn't a choice between you and Him. It was between who I should and who I am. I've always felt out of step, like literally stumbling through my life. I've never felt normal, because I'm not normal. I don't wanna be. I've had to face death and loss and pain in your world but I've also never felt stronger...like more real, more myself because it's my world too. It's where I belong.
E: So, it's not just about me?
B: No. Sorry. I've made a mess trying to figure this out but I wanna do it right and I wanna tie myself to you in every way humanly possible.

Ingin Ibu

Belakangan ini saya ingin sekali bertemu ibu, saya ingin sekali punya ibu. Yang selalu perhatian dan sayang tanpa saya memintanya. Yang mengerti apapun yang saya inginkan tanpa harus mengatakannya. Saya ingin ibu yang melahirkan saya hadir disini.

Saya ingin memanggilnya,…
Saya rindu sekali, sentuhannya yang menenangkan. Aromanya yang khas, masih jelas tertinggal dalam penciuman.

Saya masih ingat. Tiap saya pulang pada jam istirahat sekolah dan mendapati ibu tidak ada dirumah, saya selalu menangis. saya tidak melanjutkan sekolah pada jam berikutnya. Lalu teman-teman saya atau guru saya yang membawakan tas itu pulang. Sementara saya masih menangis sampai ibu datang. Kenangan itu sering mampir dalam ingatan saya akhir-akhir ini.

Ingatan kedua adalah sewaktu saya kepengin sekali makan sate. Ibu bela-belain membelikan untuk saya, padahal warungnya jauh. Penjualnya adalah teman ibu saya, mereka suka ngerumpi dan kadang sering lupa waktu. Hujan lebat sekali dan saya khawatir, pikiran buruk kemana-mana. Saya takut sekali, dalam penantian itu saya membuat janji banyak sekali, akan patuh, rajin belajar, rajin membantu dan sebagainya. Ini mungkin berlebihan, ini personal.

Saya kangen ibu yang memarahi saya. Mengomentari penampilan saya. Mengingatkan saya yang malas minum susu, karena saya tidak suka susu. Saya ingat dia selalu menunggui gelas susu saya hingga habis. Lalu mengingatkan saya untuk hal-hal baik lainnya.

Akhir-akhir ini keinginan itu rajin menghampiri saya. Saya ingin menghela nafas. Saya ingin ada jeda sejenak dari rutinitas, saya ingin tidak memikirkan apa-apa. Saya rindu nyaman darinya.

Ibu, saya ingin ibu disini. Ingin sekali ibu.
Ya Allah, mohon jaga ibu ya.

Stasiun 2

Stasiun adalah kenangan khusus. Disana menyimpan segala macam perasaan yang hadir paling komplit. Saat kedatangan dan kepulangan.

Ada perasaan malu-malu dalam perjumpaan sementara. Adakah yang berubah? Memastikan tak ada kekurangan. Lalu hanya senyuman. Saling memandangi,lupa bertegur sapa. Semua telah tergantikan dengan kehadiran.

Ada perasaan campur aduk yang berburu dengan waktu. Genggaman untuk saling menguatkan lalu mata yang memerah. Suara-suara ceria yang tiba-tiba wajib ada. Desir tipis oleh lengkingan peluit. Kali ini ada hujan ciuman, seperti semua orang itu pohon.