Rumah kesabaran

Mari bangun rumah itu, rumah yang nanti akan menampung banyak hal. Mari membuka hati untuk mereka yang rindu damai dan kehangatan. Mereka pengungsi yang kedinginan karena rumahnya kebanjiran. Mereka yang jauh datang dari tanah merah, karena disana nyawa tak lagi berharga. Atau anak-anak kecil yang lapar karena jalanan hanya bisa memanggangnya.

Mereka yang ingin berdamai. Mereka yang ingin berbincang. Mari kita dengarkan, mari peluk mereka satu-satu, dengan kasih seolah kita adalah saudara lama.

Mari kita bangun rumah itu. Rumah dengan banyak ruangan-ruangan. Rumah yang akan menampung segala macam warna dan rasa. Sampai kita tidak sadar bahwa sedih dan senang itu berbeda. Sampai kita hanya mengenal bahasa senyum dan tawa tiap hari.

Rumah hati yang kita bangun itu, memiliki ruang-ruang kesabaran yang tak pernah habis. Karena kita membangunnya tiap hari. Setiap pagi. Setiap hari.

Tidak ada komentar: